Novel iseng-iseng

Prolog


Kubuka mataku yang berat. Bayangan gelap menyelimuti sekeliling, hanya ada cahaya putih pantulan dari cermin di dinding.

Aneh.

Semalam itu memang benar-benar aneh.

Untuk kehidupanku yang standar.

Untuk segalanya yang masih biasa saja, lalu tiba-tiba menjadi tidak biasa. Bahkan menjadi luar biasa. Sangat luar biasa.

Aku takkan melepaskannya. Sampai kapanpun.

Dan sepertinya, dia memang lelaki yang kucari selama ini, dialah belahan jiwaku. Kuyakini itu.



--


Bab. I


Raka.

Aku mengenal baru sebentar saja, hanya lewat dunia maya. Internet yang memudahkan setiap orang berkomunikasi, membuatku tertarik menjelajah hingga ke dunia yang sulit tersentuh.

Awalnya hanya dari chatting biasa, dari sebuah layanan dari Yahoo yang bernama Yahoo Messangger. Raka Aditya dengan nama saruannya blackdevil menghubungiku lewat pesan pribadi. Dia mengaku bahwa dia melihat IDku, white_angel dari sebuah room Jakarta yang pernah kukunjungi.

Karena aku terbiasa berkenalan dengan berbagai macam orang di room, aku jadi tidak mengingatnya.

Blackdevil : hi angel

White_angel: hi juga devil

Blackdevil : apa kita sama2 menggunakan warna untuk ID?

White_angel : hahahaha.. Sepertinya begitu, kalau gitu gue akan manggil lo black aja yah..

Blackdevil : boleh aja Angel. Black n white.. Sepertinya warna yang sangat ok kalo di padukan.

White_angel : hahaha.. bisa aja sih lo..

Blackdevil : Apa kabar Angel?

White_angel : baik. Hmmm.. Gak biasanya nih ada yang PM-in gue tapi gak nanya age, sex n location( asl) gue..

Black_devil : aku udah tau kamu angel..

White_angel : what? Tau dari mana? Baru aja kita ngobrol saat ini..

Black_devil : yah, anggap saja aku penggemar gelapmu..

Sebuah awalan percakapan menyenangkan dari YM yang akhirnya membuatku bertemu dengannya di sebuah coffee shop di daerah Kelapa Gading.

Matanya, ketika pertama kali aku menatapnya. Begitu tajam dan dalam. Teduh dan menenangkan. Seperti menyimpan sejuta misteri yang tak akan pernah aku ketahui.

Senyumnya, tak kalah hangat dengan tatapannya yang misterius. Senyumnya pun mampu menggocangkan jiwa yang labil dan menjadikannya berubah menjadi jiwa yang pemberani.

Hari-hari kulalui dengan bersamanya, dengan proses singkat karena rasa bernama cinta itu datang lebih dulu sebelum aku bertemu dengannya.

Dan kini, dia adalah milikku, dan akan kupastikan untuk selamanya.

Cinta membuat siapa saja penderitanya menjadi buta. Menjadi tidak yakin akan dirinya bahwa dialah adalah yang paling sempurna untuk orang yang mencintainya. Dan menjadikan penderitanya menjadi orang paling bahagia dibanding siapapun di dunia ini. Dan kini, cinta yang telah menyelimutiku dan Raka.

--

“Kalian sepertinya menikah saja deh..” sahut Dinda di tengah-tengah percakapanku dengannya.

Dinda adalah teman satu kantorku.

“Gue juga maunya begitu Din, tapi Raka itu misteri banget… Dia nggak pernah ngenalin gue ke keluarganya. Gimana gue mau serius sama dia..” jawabku sembari menghela nafas.

“Sha, masa lo nungguin dia ngajak lo sih? Kenapa nggak lo inisiatif sendiri untuk main ke rumahnya? Emangnya lo nggak tau alamat rumahnya?” tanya Dinda sembari berusaha meyakinkanku untuk ke rumah Raka dengan tiba-tiba.

“Ah, nggak lah Din, nanti dia ngamuk sama gue.. Yah, walaupun gue tau Raka nggak akan pernah marah sama gue.. Karena dia orang yang nggak akan pernah bisa marah sama siapapun..” jawabku sembari membayangkan wajah Raka yang tampan.

“Aduuuh Keisha.. Kenapa sih lo tuh oon banget.. Mana mungkin juga si Raka sempurna seperti yang lo certain itu. Nggak mungkin lah dia nggak pernah marah sedikitpun sama orang.. Emangnya dia bukan manusia apa..” kata Dinda kesal sendiri

“Hihihihi… Sepertinya Raka itu memang bukan manusia Din.. Dia itu malaikat.. Sangat sempurna.. Lo liat aja wajahnya, nggak ada artis yang bisa menyaingi ketampanannya.. Dia memang benar-benar sempurna. Sifatnya pun seperti malaikat Din.. Dia baik banget dan yah pokoknya perfect banget lah..” jawabku panjang lebar dengan mata berkaca-kaca karena bahagia mendapatkan Raka.

“Aduh, susah deh emang kalau orang lagi jatuh cinta. Oke, gue akuin Raka emang perfect secara phisik, tapi secara sifat masa iya dia perfect juga sih Sha?” Dinda bertanya dengan kesal.

“Nggak ada. Nggak ada yang cacat pada diri Raka, Din. Dia sempurna.” Aku menjawab dengan senyuman untuk Dinda. Agar Dinda mengerti, bahwa Raka adalah memang jelmaan malaikat. Yang sempurna melebihi manusia manapun di dunia ini.

“Fine fine.. Gue nyerah deh meyakini lo untuk mencari tahu tentang Raka, toh nyatanya lo nggak ada rasa penasaran satupun. Lo seratus persen percaya sama Raka.Susah gue ngasih taunya…” Dinda menyerah.

“Hahahaha.. Din.. Din..okay okay.. Jika lo mau gue menyelidiki Raka, kasih tahu dong, dari mana gue harus mulai nya?” tanyaku sembari tertawa lepas

“HAH? Beneran lo mau nyelidikin dia?” tanya Dinda tidak percaya

“Bener. Gue juga penasaran sih, dia itu keluarganya seperti apa.. Gue kan juga pengen mengenal calon mertua gue..” aku tersenyum

“Ah dasar lo ah.. Emang udah gatel aja kan pengen nikah..” Dinda tertawa

“Eh sudah kesiangan nih.. Kelamaan jam makan siangnya nanti dibanding kerjanya. “ Ajakku untuk segera beranjak meninggalkan kantin tempat biasa aku makan siang dengan Dinda.

“Yuk..” Dinda menjawab dengan cepat.

--

“Raka.. Lagi dimana?” tanyaku di handphone

“Lagi di jalan nih.Lagi nyetir. On the way mau jemput kamu..” jawab Raka dengan nada tenang.

“Oh ya udah.. Hati-hati ya sayang..” jawabku senang.

Beberapa jam kemudian Raka sudah tiba di depan kantorku. Menanti dengan sabar, dan menatap dengan syahdu. Bola matanya yang hitam pekat seperti lautan hitam yang dalam yang mampu menenggelamkan siapa saja yang berusaha mencari tahu tentang dirinya.

“Sudah siap? Yuk..” Raka segera membukakan pintu untukku.

Diperjalanan, aku hanya bisa menatapnya dengan bahagia. Menatap kesempurnaan fisiknya yang tak tertandingi dan menatap ketenangannya seperti danau tak berombak.

“Sayang, ada apa? Kok melihatku seperti itu?” tanya Raka menatapku sembari tersenyum. Senyumnya benar-benar membuatku terbang melayang.

“Nggak apa-apa sayang.. Aku hanya merasa bahagia. Betapa beruntungnya aku bisa hidup bersamamu..” jawabku dengan membalas senyumannya.

Raka membelai rambut panjangku, lalu menggenggam tanganku.

“Aku juga beruntung memiliki kamu Kei..” jawab Raka

Aku tersenyum menatapnya, andai saja aku bisa segera memilikinya secara sah, maka semua yang ada di kehidupanku akan menjelma menjadi hal yang menyenangkan.

“Kei, aku ada surprise buat kamu..” kata Raka

“Apa tuh Ka?” tanyaku penasaran.

“Hmm.. Ada deh..” Raka tersenyum manis. Dia seperti membayangkan sesuatu yang sangat manis.

“Aku jadi penasaran… Apaan sih Ka?” tanyaku

“Nanti saja ya sayang.. Nanti kamu juga tahu..” Raka meyakinkanku, bahwa dia tidak akan pernah berbohong padaku.

“Tapi sebelumnya aku minta ijin dulu sama kamu, untuk satu minggu kedepan mulai besok aku tidak bisa menjemputmu..” Raka menambahkan. Raut wajahnya berubah jadi serius.

“Oh.. Kenapa Ka? Apa kamu sibuk dengan urusan pekerjaan?” tanyaku.

Tapi setahuku Raka tidak bekerja. Dia pernah bilang dia hanya mempunyai beberapa usaha di bidang waralaba. Untuk pemuda seusia dia yang masih tergolong muda namun sudah mempunyai beberapa usaha, membuatku berpikir bahwa Raka adalah orang yang sangat sukses.

“Bukan urusan pekerjaan. Yah, nanti kamu juga tahu sayang..” jawab Raka kalem.
Tentu saja aku mempercayainya. Aku tidak pernah sedikitpun mencurigainya. Karena dia memang sempurna. Tanpa cacat sedikitpun.



---

Bagikan:

0 komentar