Divorce


Backstage cafe, Ancol.


Angin laut di malam hari berhembus syahdu. Kutuang chinesse tea ke cangkir ku. Kamu masih sibuk dengan pikiran burukmu, setidaknya itu adalah pradugaku. Sesekali kamu berdecak dan geleng geleng kepala. Ada satu harapan yang terbesit di benakku. Berharap kamu dapat membuka pikiran dan melihat kenyataan yang ada.


Kutatap dirimu yang melamun. Matamu jauh memandang lautan yang gelap. Binar matamu tampak samar dalam keremangan cahaya lilin di meja. Suara musik dari live band masih mengiringi pertemuan kami malam ini. Waitress mengantar pesanan makanan kami. Perutku yang lapar sudah tidak tahan ingin menyantap makanan yang kami pesan.


Setelah makan kamu berkata, bercerita tentangmu. Tentang hatimu. Bagaimana tertekannya kamu denganku. Kudengarkan dengan seksama. Hingga tak tahan dan menitikkan air mata. Menurutmu, aku begitu membencimu sehingga kamu tidak bisa lagi melanjutkan perjalanan hidup bersama denganku.


Aku menangis. Tak kusangka kamu berpikir seperti itu. Aku sangat paham akan rasa tertekanmu. Ini memang salahku. Begitu sulitnya menyampaikan rasa cinta.


"Mengapa?" tanyamu dengan lantang. Seorang waitress sampai memalingkan kepalanya menghadap kami. Aku menyentuh tanganmu, memberi kode agar memelankan suara.


Aku kesulitan berkomunikasi dengan baik, mungkin itu yang harus kukatakan denganmu. Namun, lidahku kelu. Sulit mengeluarkan kata-kata itu.


Kamu masih tak mengerti. Dan memutuskan untuk pulang ke rumah kita.


Dalam perjalanan kita terdiam. Aku hanya memeluk erat pinggangmu di atas motor. Motor yang menyisakan sejuta kenangan. Saat aku masih menjadi kekasihmu, saat aku masih sangat mencintaimu. Dulu..


Di rumah, kita memutuskan melanjutkan pembicaraan yang tersisa. Tak ada titik temu di sana. Aku memelukmu, sebentar saja untuk merasakan apakah ada cinta yang tersisa untukku selain amarah?


Hatiku terasa berbeda, seperti tidak ada aliran darah yang mengalir deras saat aku baru memelukmu, saat masih menjadi kekasihmu. Tapi bukan berarti aku tidak menyayangimu. Aku mencintaimu, hanya saja aku merasa tidak pernah mengucapkannya. Bagiku, kata-kata hanyalah sebuah kalimat. Yang penting adalah hati. Bagaimana aku menyampaikan hatiku padamu.


Kamu belum mengerti tuntas. Bagaimana tentang diriku. Tentang lukaku yang begitu dalam.


"Luka apalagi?" Kamu masih bertanya, masih tak paham maksudku.


"Please, diam. Aku ingin memelukmu sejenak saja. Merasakan kembali apa yang telah hilang. Dan berharap semoga yang hilang itu kembali lagi.." jawabku.


"Yang hilang takkan kembali.." katamu.


Bibirku tiba-tiba ikutan kelu. Mengikuti jejak lidahku yang sudah terlebih dahulu kelu.


Tanganku gemetar, amarahku memuncang. Aku mendengar nada keputusasaan. 'Apakah ini akhir dari semuanya?', tanyaku dalam pikiranku yang buruk.


"Kita, memang lebih baik cerai.." tegasmu.


Aku tak dapat menangis. Karena tangis dalam hatiku sudah lebih dulu meledak. Hingga air mata tak sanggup mengalir di pelupuk. Aku hanya ingin menikmati sedikit saja moment saat memelukmu. Mungkin untuk yang terakhir kali, mungkin hanya untuk sesaat. Setidaknya aku punya harapan, bahwa dulu cinta kita pernah sama, berkobar pada waktu yang sama, mungkin saja bisa datang walau hanya fatamorgana.


Aku mengangguk. Menerima keputusanmu. Aku bingung, mengapa aku begitu lemah tak ada perjuangan mempertahankanmu. Mengapa begitu saja aku menyerah. Tapi, cinta itu tidak menyakiti, tidak dipaksakan, tidak mengekang. Aku melepasmu, dengan ikhlas.


Namun, sekali lagi. Aku sampaikan padamu. Inilah aku, dan itulah kamu. Kita berbeda. Punya jalan dan kemauan yang berbeda pula. Tapi ada satu benang merah yang menghubungkan kita. Yaitu cinta. Cintalah yang bisa menyatukan kita hingga detik ini, hingga kamu merasa sudah tidak sanggup lagi berjalan bersamaku.


Tertekan mu, juga tertekan ku. Kita seperti saling menyakiti. Seperti hukum rimba. Membunuh atau di bunuh. Sikap takut disakiti kita membuat kita menyakiti orang lain terlebih dahulu, sebelum kita disakiti oleh orang lain.


Sakit ku, juga sakit mu. Hampir sama. Hanya saja, sudah banyak pikiran orang lain yang tercampur dalam keputusanmu. Yang menyebabkan kita seperti ini.


"Kita yang menjalani, kita yang melalui. Bukan mereka yang tidak ingin kita bersama. Jangan dengarkan mereka, yang tidak ingin kita bahagia bersama " kataku berharap kamu berubah.


Tapi kamu menggeleng. Kamu menunjukkan sikap tegas yang elegan. Aku menghormatimu.


Perlahan, aku lepas pelukan ini. Berharap saat kita pisah resmi nanti, kamu sudah lebih kuat dari saat ini, dan begitu pun aku.

Bagikan:

0 komentar