Bogor, petualangan gue dan Kamandaka


Bogor, beberapa bulan lalu.




Kamandaka, cowok ajaib berbadan dan bersuara besar kali ini mengajak gue ke daerah yang nggak jauh-jauh amat dari Jakarta. Tepatnya di wilayah Bogor. Saat itu Kamandaka lagi ada keperluan mencari bahan untuk keperluan prakteknya. Gue yang nggak tau apa-apa, plus nggak ngerti apa-apa pula main ikut dan membolos kerja, huehehehehhe..


Perjalanan naik motor ke Bogor sih nggak lama-lama amat, cuma motor Kamandaka yang nggak bisa dibawa ngebut membuat perjalanan terasa lama dan pantat gue jadi pegelnya minta ampun.


Akhirnya setelah berpusing-pusing (baca :berputar-putar dalam bahasa Malaysia) kami sampai juga di tempat tujuan. Nama daerahnya gue lupa apa, karena pake bahasa Sunda-sunda gitu. Tapi yang jelas jauh dari kotanya. Karena sepi dan kampung banget tempatnya.


Hujan pun turun pada siang itu. Membuat gue dan Kamandaka terpaksa berteduh sementara waktu di rumah kenalan Kamandaka. Dengan disuguhi ikan asin, sayur asam, nasi hangat dan sambal setan yang pedasnya minta ampun gue langsung kekenyangan dan mengantuk. Sudah biasa penyakit lama kumat, abis makan kenyang yah ngantuk deh..


Tanpa terasa ternyata langit sudah gelap, malam sudah tiba, angin mulai berhembus kencang, suara binatang malam mulai terdengar, suara batuk-batuk kakek sebelah rumah juga sudah terdengar, suara cekikikan anak perempuan yang suka keluar malam juga udah bergema, dan inilah moment yang sangat gue benci. Malam bersama Kamandaka. Itu adalah moment yang sangat gue hindari.


"Maaf Kang, bukan nggak mau bermalam Sabtuan sama Akang, tapi malam akan semakin mengerikan jika ada di samping Akang..” kata gue polos.


Sementara Kamandaka cuma membalas dengan senyuman yang nggak ada manis-manisnya. Senyuman yang menambah suasana angker.


Bukan gue kalau abis bangun tidur nggak kelaparan, sementara penghuni rumah lagi kerepotan mengurus bayi kecil yang baru lahir beberapa bulan lalu. Karena nggak enak hati, gue terpaksa keluar sendiri mencari tukang makanan, berharap ada cemilan walau nggak mengenyangkan.


Jalanan gank rumah tampak sepi, kontur tanah yang berbukit-bukit membuat area desa itu ada yang rumahnya di atas bukit, ada juga yang di bawah. Kebetulan rumah yang gue tumpangi adalah rumah yang ada di atas bukit.


Dari depan gank, gue melihat ke lembah, ada beberapa pencahayaan lampu dan pantulan dari permukaan air.


’Itu adalah sendang yang dipakai mandi putri-putri raja pada jaman dahulunya karena airnya jernih dari mata air gunung Salak..’ jelas Kamandaka siang tadi.


Gue penasaran ingin melihat suasana yang romantis di lembah. Karena pencahayaan lampu, kolam-kolam itu jadi kelihatan seperti kolam dengan saung-saung di pinggirnya, mengingatkan gue pada restoran di Puncak yang bertema pemancingan. So romantic..


Akhirnya gue melangkahkan kaki ke bawah, menyusuri tangga tanah yang licin karena habis tersiram air hujan.


Udara sangat dingin malam itu, bahkan gue bernapas aja sampe ngeluarin asap. ’Duh noraknya, gue..’


Tiba-tiba terdengar suara kecipak-cipuk seperti ada orang yang mandi. ’Masa sih ada orang mandi malam-malam begini?’


’Ah, itu cuma halusinasi gue doang..’ gue menenangkan hati. Ketawa sendiri nggak jelas demi mendamaikan hati yang udah mulai terkontaminasi dengan rasa takut.


”Dede bayiiii..” teriak Kamandaka dari atas bukit.


Gue menoleh ke belakang, hati gue mendadak riang. Kamandaka memanggil gue. Gue pun berlari kecil menaiki undakan tangga tanah. Ingin menghampiri Kamandaka.


Begitu gue sampai di atas, ternyata Kamandaka nggak ada.


’Loh?’


Gue garuk-garuk kepala walau nggak gatal, jilbab gue basah karena rintik hujan.


’Loh, kok tiba-tiba hujan?’


’Ah, halusinasi aja..’


Lagi-lagi gue menenangkan hati.


Gue ke lembah lagi, mau mencari ide untuk menulis kisah roman suatu saat nanti.


Ketika sampai di lembah, hujan nggak turun. Langit yang malam juga nggak begitu gelap, karena mendapat pencahayaan dari bulan yang sedang purnama.


’Indahnya..’ benak gue membatin.



’Andai gue bisa di sini dengan orang yang gue sayangi..’



Cikikikikik..


Tiba-tiba suara cekikikan nggak jelas mengganggu suasana dan hayalan gue. Gue benci suara itu, sudah berpuluh kali gue berpetualang sama Kamandaka, sipemilik suara itu selalu ada deket gue. Gue sampe heran, kenapa sih mereka seneng banget deket-deket gue. Mestinya mereka menyadari, gue kan cewek normal, nggak suka cewek. Moso jeruk mangan jeruk yo’.


Tanpa pikir panjang –untuk lari ngapain pake mikir-mikir- akhirnya gue terburu-buru menaiki undakan tangga tanah yang licin karena habis tersiram hujan di siang harinya.


Setelah beberapa kali terpeleset, dan baju penuh dengan tanah coklat akhirnya gue sampai juga di rumah. Gue cengo memandang Kamandaka yang lagi asyik makan pisang goreng dan menyeruput teh manis.


Menyebalkan.


”Dede bayii, itu kenapa kok kotor banget? Kamu habis mandi lumpur yah?” tanya Kamandaka polos.


”Iiih, Akaang.. Emangnya aku babi mandi lumpur segalaa. Aku nih habis jatuh. Tadi aku ke bawah tapi malah denger suara cekikikan..” kata gue masih terngiang suara cekikikan nggak jelas.


”Loh? Kamu kok bisa ke bawah? Kan dipagar dede bayiii.. Kamu loncatin yaah?” kata Kamandaka curiga.


”Nggak ada pagar..” kata gue bingung.


”Mata kamu kalii nggak liat. Ada kok pagarnya..” Kamandaka ngotot.


’Ih nyebelin amat, masalah pagar aja sampe dibahas. Tapi bukan gue kalau kalah begini..’ bisik gue.


”Ayook kita ke bawah. Kita liat ada apa nggak tuh pager..” kata gue nggak kalah ngotot.


Akhirnya gue dan Kamandaka ke bawah. Sesampainya di depan tangga mata gue melotot, mulut gue ternganga tapi nggak sampe ileran looh.. *tetep berusaha keliatan keren*


”I cant believe that” kata gue sok bahasa linggis. Tapi emang gue lihat ada pagar setinggi 1 meter berwarna hijau muda kusam yang terkunci, model pagar itu seperti pagar pada umumnya yang terdapat di rumah-rumah komplek.


Gue kucek-kucek mata. Serius mampus tadi gue lewat nggak ada pagar.


“Tuh kan ada..” jelas Kamandaka.


”Kang! Serius mampus! Tadi nggak ada pagarnya!!” gue bingung sembari menunjuk-nunjuk pagar keparat itu. Yang bikin gue linglung setengah mati malam ini.


”Dede bayiii.. Lain kali jangan ngigau gituu yaah..” Kamandaka berjalan berlalu meninggalkan gue dalam keheranan.


’Loh kok? Sumpah gue bingung’, batin gue bergejolak.


‘Jadi tadi gue lewat mana yah? Masa iya gue nembus pagar?’


‘Ha ha ha..’
, gue ketawa nggak jelas.


”AKAAANG!!” gue berlari mengejar Kamandaka. Badannya yang besar mudah sekali dilihat.


”Kang, tadi berarti aku berjalan nembus pagar doong..” tanya gue girang. Berharap jawaban Kamandaka sesuai dengan impian gue.


Begini yang ada di benak gue :



Kamandaka : Iya Deb, kamu sudah punya kesaktian tinggi. Kamu mampu berjalan menembus pagar dan halangan apa pun. *dengan muka serius*


Gue : WOWW!! *takjub dan speechless*


Kamandaka : Selamat Deb. Kamu berhasil melalui ujian demi ujian. Kamu adalah harapan terakhir, penyelamat negeri ini..*Kamandaka berkata seperti guru yang menurunkan ilmunya pada muridnya, seperti yang ada di film-film kungfu*


Gue : *masih bengong dan takjub*


Gue segera menghapus hayalan itu. Muka gue sumingrah.


“Kang, jawab doong..” gue memelas.


“Jawab apa Dede bayiii?” tanya Kamandaka


“Aku tadi jalan nembus pagar yah Kang? Iya ya Kang?” tanya gue bener-bener ngarep jawaban yang sesuai dengan hayalan gue.


”Emang setelah kamu masuk apa yang kamu lihat tadi?” tanya Kamandaka


”Kolam Kang, cahaya bulan yang memantul di kolam, suasana romantis banget Kang.. Kolamnya jernih dan bersih. Indah banget..” jawab gue.


”Bersih dan jernih?” tanya Kamandaka


”Iyah, kan Akang bilang tadi siang pas hujan itu dipakai untuk mandi putri-putri raja..” kata gue.


”Iya, tapi itu kan dulu. Sekarang mah udah kotor banyak sampahnya. Malah airnya hitam..” jawab Kamandaka.


Gue mendadak bengong. ’Ah yang bener aja, walau gelap mata gue nggak rabun ayam kok..’ kata gue menenangkan hati sendiri.


”Terus, tadi yang aku lihat apaan dong?” hati gue mulai nggak enak.


Kamandaka terdiam beberapa lama, sementara gue makin nggak enak hati. Takut denger jawaban yang nggak enakin. Tiba-tiba Kamandaka berkata memecah kesunyian,


”Berarti, yang kamu lihat tadi bukan keadaan sebenarnya seperti sekarang ini.. Kemungkinan kamu kebawa ke alam jin yang menunjukkan keadaan di jaman dulu..”


Dan kemudian, suara cekikikan pun terdengar sayup dari kejauhan.


Suara yang dekat, pertanda jauh keberadaannya..
Suara yang jauh, pertanda dekat keberadaannya..


Dan gue pun bergidik hebat.

Bagikan:

0 komentar