Isengan tentang Carlos dan Sahara

Salamat hasundau je mina mama
Pahari biti bakas tabela
Ije melai kota kea melai desa
Kabar bahalap handak inyarita


Dendang Syair gubahan dari Pak Bajik Rubuh Simpei yang diterjemahkan menjadi selamat bertemu ibu, bapa, tua muda, baik yang ada di kota maupun di desa. Ini ada berita baik yang mau disampaikan yang kuputar dari walkman, mengiringi langkahku menuju rumah betang tempat ku dilahirkan. Nympha yang tua masih saja menatap nanar kearah kuburan kakek yang terletak tidak jauh dari rumah betang.

“Carlos !” Seru Demirra dari kejauhan
“Apa?” kataku marah.
“Kenape kau nie? Marah terus tak jelas ape artinya…” Demirra menggandeng tanganku.
“Carlos, tolong dengarkan dulu. Aku hendak bicara..” Demirra memohon.
“Apalagi? Aku tak mau mendengar lagi. Aku mampir sebentar hendak mengambil sisa barang-barang..” kataku membentaknya sembari melepas gandengannya.
“Kenapa dia selalu gusar?” kata Demirra bertanya pada Nypmpha yang selalu menatap kosong.

Setelah membereskan barang-barangku, aku segera pergi dari rumah betang itu. Tidak ada lagi keharmonisan disana. Tidak ada lagi kehangatan yang dulu selalu membuatku rindu. Hari ini kuputuskan akan ke Jakarta untuk mencari Sahara. Aku tak kuat lagi menahan semua ketidak pastian dan menunggu lama untuk hal yang belum tentu terlaksana.

“Carlos… Udah belum?” tanya Tonny yang menunggu di mobil.
Tonny adalah rekan kerjaku di perkebunan kelapa sawit. Tonny asli Jakarta. Dia sangat modern sekali. Dandanannya nyentrik dan kelihatan “gaul”.
“Udah Ton. Hanya ini yang ku bawa..” kataku sembari menaiki mobil dan menunjukkan sumpai rangkai pada Tonny
“Hah? Apaan itu? Asesoris? Jauh-jauh dateng kemari cumin buat ngambil gituan doang? Aduuh Carlos.. Lo gila kali ya.. Ya udahlah.. Ayo kita berangkat sekarang, nanti ketinggalan pesawat. Udah jam berape nih..” kata Tonny dengan dialeg Jakartanya.
“Hayo.. Lets go.” Kataku mengimbangi bahasa nya.
“Halaah..Orang dusun ngomong bahasa inggris..” Tonny tertawa dan menjalankan mobil.

Diperjalanan aku berpikir, aku pasti akan merindukan ini semua. Tempat yang puluhan tahun tidak pernah ku tinggalkan. Kini aku pergi keluar pulau Borneo. Aku belum pernah naik pesawat, apalagi datang ke Jakarta. Aku buta sama sekali tentang ibukota itu. Rasanya aku takut meninggalkan Borneo. Tapi aku harus mengejar mimpi, agar mimpi itu menjadi kenyataan. Aku harus mencari Sahara, setelah tiga tahun lamanya aku berpisah dengannya.

Tiga hari lalu aku sudah ke rumah Pak Andra ayah Sahara, aku sudah menanyakan alamat tempat Sahara tinggal. Semoga aku dibimbing oleh alam agar aku bisa bertemu dengannya.

“Mikir ape sih lo? Tenang aja Carlos.. Gue pasti bantuin lo. Lo bisa ketemu sama si neng Sahara yang lo cari itu.. Pan mukanye udah gue liat.. Dan alamat udah gue pegang, insya Allah ketemu deh sama yang namanya Sahara itu.. Don’t worry brother..” kata Tonny sembari berlaga seperti jagoan dalam film yang sedang menenangkan partnernya.

-

“Panas yah..” kataku sembari menatap jalan yang panjang.
“Welcome to Jakarta brother..” kata Tonny bersahaja
“Ini namanya jalan tol ya?” tanyaku
“Betul sekali my brother.. Sebentar lagi kita turun tol dan akan kita mampir ketempat nyokap gue dulu..Udah lama rasanya gak ketemu nyokap.” Kata Tonny tenang.
“Nyokap?”
“Orang tua ibu brother..”
“Oh..”

Akhirnya mobil yang kami tumpangi berhenti di depan rumah yang asri. Perkarangannya kecil dan selokannya tampak kotor. Inikah Jakarta?

“Tonooooooooo..” teriak seorang ibu dari teras rumah.
Tono?
“Tonoo.. Ya ampuun, nyak kangen..” kata ibu itu sembari merangkul Tonny
“Tono?” aku memandang heran Tonny
“Tenang brother, nama asli gue emang Hartono. Itu karena bokap gue yang orang jawa namainnya kaya gitu. Tapi untuk keren kan nggak ada salahnya gue merubah nama jadi Tonny.. Iya gak?” Tonny tersenyum sembari memamerkan giginya yang besar-besar
“Tapi lo jangan bilang-bilang bos yah brother..” Tonny menambahkan
“Ok.”

Rumah Tonny alias Hartono alias Tono tidak begitu besar. Begitu banyak perabot berjejal dan membuat rumah jadi terkesan sempit. Aku duduk diruang tamu sembari meminum teh hangat yang dihidangkan ibu Tonny. Rasanya terlalu manis teh yang dibuatkannya, tapi demi toleransi aku terpaksa pura-pura menikmatinya.

“Ooo..Ini namanya Carlos? Bagus amat ya namanya.. Kaya orang bule..” kata ibu Tonny tersenyum padaku.
“Nyak, Carlos ini orang Dayak nyak, keren looh…” jelas Tonny
Aku hanya tersenyum, bingung sebenarnya.
“Udah ah nyak. Gak bisa lama-lama. Tonny sama Carlos mau ke Pondok Indah. Itu loh nyak, rumahnya orang-orang kaya..” kata Tonny buru-buru bangkit dari kursi.
“Tonny? Lu udah dikasih nama bagus-bagus lo ganti-ganti. Dasar lu..Ya udeh sonoh..Lu cari deh tuh yang namanya Sahara ye..Ntar lu bawa kemari. Nyak pengen liat..” kata ibu Tonny
“Ton, kamu kasih tahu ibu kamu tentang Sahara?” bisikku pada Tonny
“Iya doong. Gue mah jujur ma nyokap gue. Masa gue tutup-tutupin. Gue juga bilang kepulangan gue di sini kan di biayain sama elo..”
“Ya ampun..” kataku ikut-ikutan dialeg Tonny.

-

“Kamu yakin ini rumahnya Ton?” tanyaku sembari menatap rumah besar yang seperti istana itu.
“Iya yakin. Gak salah lagi. Dia disini.” Kata Tonny mantap
“Yuk kita turun..” kataku sembari membayar taksi.
“Carlos, apapun yang terjadi lo jangan sedih ya..Untung aja nih hari Minggu. Siapa tahu si Sahara itu ada di rumah..”

Ding Dong.

Bel di bunyikan. Jantungku tiba-tiba berdetak kencang. Aku sudah tidak sabar ingin bertemu Sahara.

“Yaa..” kata suara dari dalam.
Pintu rumah yang besar tiba-tiba di buka oleh wanita yang tak ku kenal. Wajahnya mirip sekali dengan Sahara. Hanya ini lebih tua.
“Siapa ya?” tanya wanita itu.
“Bu, apa betul ini rumah Sahara?” tanyaku
“Iya benar..” jawab wanita itu
“Siapa maaa?” tiba-tiba suara yang sangat ku kenal terdengar.

Jantungku berdetak tambah kencang. Apakah itu suara Sahara?

Pemilik suara merdu itu menampakkan dirinya. Dia cantik sekali. Tubuhnya bertambah kurus. Tidak berisi seperti dulu. Rambutnya coklat kemerah-merahan dan ikal. Tidak hitam dan lurus seperti yang ku sering belai dulu. Kulitnya masih putih, dan matanya biru. Aneh sekali. Kenapa matanya biru? Apakah dia mengenakan pewarna mata seperti artis-artis yang ada di televisi?

Aku tersenyum. Memandangnya tanpa berkedip sekalipun.
“Carlos..” suara itu begitu menenangkanku. Akhirnya aku menemukannya.
“Ca..” Dengan sigap Sahara memelukku. Airmatanya mengalir membasahi pundakku. Aku membalas pelukanya. Aku sangat merindukannya.
“Aku..” Sahara terbata-bata.
“Ca..Siapa ini?” tanya wanita yang membukakan pintu.
“Ayo semuanya masuk. Kita bicara di dalam..” kata Sahara sembari menggandengku.
“Carlos, kenalin..Ini mamaku..Dan ini siapa?” tanya Sahara padaku.
“Halo bu. Saya Carlos. Ini Tonny, teman kerja saya di Kalimantan..” jawabku.
“APA? CACA.. Jadi ini yang namanya Carlos?” ibu Sahara terkejut dan bersuara lantang.
“CA !” katanya lagi
“Mama !. Sudahlah !.. Dia tamu ku, dan..” jawab Sahara marah
“Maaf ya bapak-bapak. Saya masuk dulu..” kata ibu Sahara
“Eh iya tante..” jawab Tonny

Sahara menatapku. Tangannya erat menggenggam jemariku. Seperti enggan melepas genggaman ini lagi.

“Carlos.. Kamu selamat? Dari hutan?” tanya nya sembari menangis
“Ca..Maafkan aku..Maaf..” aku terbata-bata. Aku tidak bisa menjelaskan, padahal sudah setahun aku mencoba merangkai kata untuk moment seperti ini. Agar mampu memberi penjelasan untuknya.
“Eh gue tunggu diluar ya..” kata Tonny salah tingkah.
“Iya.” Jawab aku dan Sahara hampir berbarengan.
“Carloos..” Sahara menciumku. Dia tampak sangat merindukanku. Pelukannya erat sekali. Aku salah tingkah, rasanya tidak nyaman seintim ini di tempat terbuka. Terlebih lagi dengan ibu Sahara yang tidak menyukaiku yang mungkin saja sedang menyaksikan kami.

Tapi aku tidak bisa munafik. Aku jelas merindukannya, melebihi apapun di dunia ini. Aku membalas ciumannya. Masih seperti dulu. Tidak ada yang berubah.
“Jangan pergi lagi.. Aku mohon, jangan tinggalkan aku lagi..” katanya menangis
“Tidak Ca, aku di sini. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu..”
Sahara melepas pelukannya. Dia menuju meja dan mengambil kunci yang sepertinya kunci mobil.
“Maa..Aku pergi dulu..” katanya berteriak
“Ayo Carlos..” katanya sembari menarik tanganku.
“Ca.. Kita mau kemana? Tonny..”
“Sudah tinggalkan saja dia..”
Diluar rumah Tonny menunggu di mobil dengan resah.
“Tonny ya.,. Maaf ya kita tinggal. Kamu langsung aja pulang. Nanti Carlos aku yang mengantar sampai tempat kalian menginap..” kata Sahara tergesa-gesa.
“Yaa.. Gue di tinggal doong.. Carlos lo telepon gue ya…Nih no hape gue..” kata Tonny sembari member kartu nama pada Sahara. Tonny tahu aku membenci teknologi, aku tidak mungkin meneleponnya.
Sahara menyetir mobil kearah pegunungan. Aku tidak tahu dia akan membawaku kemana. Tapi udaranya sejuk sekali. Pegunungan yang lumayan indah. Banyak kebun teh dan rumah-rumah besar. Sahara memakirkan mobilnya di hotel bernama Safari Garden.
“Kita menginap di sini ya..” bujuk Sahara
“Tapi Ca..”
“Sudahlah..Turuti saja aku..”

Kami memasuki semacam ruangan yang terbuat dari mobil caravan. Ruangannya tidak terlalu besar. Hanya ada satu kamar dan ruang televisi. Aku meletakkan tasku di sofa depan televisi. Sahara langsung memelukku. Kami berciuman. Rasanya seperti ada sesuatu yang meledak yang ingin keluar dari tubuhku.

Aku laki-laki dewasa, dan Sahara adalah wanita yang kucintai. Wajar saja apabila dada ini bergemuruh dan berontak berteriak meminta dipenuhi hasrat kelaki-lakian. Aku tak mampu menahan diri lagi. Aku menggendongnya ke tempat tidur besar. Aku telanjangi tubuhnya. Tampak beberapa tato menghiasi pinggangnya.
“Apa ini?” tanyaku
“Tato. Sepertimu..” Dia menunjukkan tato dilenganku. Ternyata tato kami sama.
“Bagaimana?...”
“Aku selalu mengingat tato mu Carlos..Dan aku memutuskan untuk membuatnya dengan motif yang sama. Aku membuatnya di Bali..”
“Ca..” Aku kembali mencumbunya. Tidak ada kata-kata. Hanya ada nafsu yang membelenggu kami.Nafsu yang merantai kami menjadi satu hingga tidak bisa melepaskan diri satu sama lain. Hati kami seperti di rantai. Rantai yang sempat terputus dulu, kini tersambung lagi dengan timah-timah cinta yang tak bisa dihancurkan lagi.
“Ca..”
“Carlos.. Sudahlah.. Lakukan saja, apa yang kamu takutkan? Aku milikmu, dan kamu sudah pasti milikku..”

Aku setuju dengan perkataan Sahara tentang aku miliknya. Dan dia juga milikku. Tapi hatiku resah bila melakukan hal terlarang ini, resah akan menghancurkan semua yang sudah ku bangun bertahun-tahun.

Tiga tahun aku memikirkan ingin rasanya ku sudahi saja semua keresahan ini, dengan menikahi Sahara. Secara resmi tentunya. Karena aku memang ingin memilikinya. Tapi tidak dengan cara seperti ini. Tidak dengan cara terlarang ini.

“Carlos ! Kenapa kamu diam?” Sahara menatapku tajam dengan mata birunya. Dia menciumiku, menggodaku dan menginginkan aku menjamahnya. Aku tidak bisa melakukan ini. Aku tidak bisa.
“Ca..” Aku berdiri dan membelakanginya. Aku tidak mau menatap tubuh polosnya yang menggodaku.
“Carlos? Kamu kenapa? Ada apa sayang? “ tanyanya.

Ah. Suaranya. Suaranya menggodaku. Seperti nyanyian malaikat penghuni neraka yang memanggilku dan menarikku dengan perlahan agar aku tiba dimulut surga dunia.

Benar-benar menggodaku. Naluri kelaki-lakianku sudah tak tertahankan lagi. Tapi aku harus menahan semua ini. Aku ingin menjaganya. Jika saat nya nanti aku akan mendapatkan semua itu.

“Ca..Maaf, bukan tak mau.. Tapi aku tidak mau memerawani mu saat ini..Aku ingin nanti. Setelah kita menikah..” kataku tegas sembari memegang pundaknya.
“Carlos..” Sahara menangis. Dia menutup wajahnya. Kuselimuti tubuhnya dengan selimut yang hangat.
“Ada apa Ca?” tanyaku
“Aku…aku sudah tidak perawan..” tangisnya meledak.
“Maafkan aku..Aku..”

Aku terdiam. Tak mampu berkata-kata. Sahara sudah tidak perawan. Kepada siapakah keperawanan itu diserahkannya? Dulu memang aku hampir saja mengambil keperawanan itu. Tapi aku menahan diri. Karena aku menginginkannya nanti setelah dia sah menjadi istriku.

Dan kini. Keperawanan itu telah hilang.

“Carlos.. Maaf.. Aku.. Aku sudah menyerahkannya pada pacarku..” Sahara tertunduk.
“APA?”
“Aku punya pacar dulu !.. Itu sebabnya tiga tahun aku tidak mencarimu. Aku punya pacaaar dulu, tapi sekarang aku sudah pisah dengannya Carlos..” Sahara merengek.

Jantungku berdetak kencang. Aku membetulkan pakaianku. Ku kancingkan kemejaku. Rasanya perut ku menjadi mual. Seperti ingin muntah. Bagaimana bisa? Setelah tiga tahun aku meyakinkan hatiku untuk pindah agama Hingga akhirnya enam bulan lalu aku menjadi seorang muslim. Kini, wanita yang ingin ku nikahi telah menyerahkan dirinya pada lelaki lain dan mempunya kekasih?

“Carlos. Kamu kenapa siih? Itu kan cuma keperawanan..” tanya Sahara

Aku hanya terdiam. Sibuk berpikir tentang macam-macam. Pikiranku terlalu banyak hingga kepalaku tiba-tiba sakit. Pikiran-pikiran itu berebut mencari ruang dalam otak ku. Berebut ingin di dahulukan. Berebut saling mencari perhatian. Rasanya kepalaku jadi pusing. Dan semua jadi serba memuakkan.

“Carlos.. Kamu kenapa sih?Memangnya kalau aku nggak perawan kamu sudah tidak cinta aku? Kemarilah sayang..” Sahara merangkulku. Dia mencumbuiku.

Aku tetap terdiam. Rasanya seperti mati rasa. Hati ku seperti hancur dan menjadi keeping-keping mosaic yang kepingannya hilang. Sahara masih merayuku. Dia seperti anjing kelaparan menggonggong pada majikannya meminta di beri makanan. Aku menjadi muak padanya. Aku merasa di khianati.

“Hentikan Ca !!” Aku membentaknya
Sahara terkejut. Raut wajahnya tersirat kebingungan. Dia menyelimuti tubuhnya kembali. Aku keluar dari kamar. Keluar dari caravan. Memandang kolam renang di sore hari. Ku nyalakan rokok dan ku hisap dalam-dalam. Aku berusaha menenangkan pikiranku.

Sahara menyusulku. Dia duduk di tepian kolam renang. Aku menghampirinya. Aku duduk di bangku ayunan. Ku hisap kembali rokokku hingga habis. Tak ada suara. Hanya ada suara binatang hutan.

Sahara. Bagaimana bisa kamu mengkhianatiku? Menyerahkan milikku kepada laki-laki lain. Yang mungkin tidak kukenal. Perih. Pedih.

Bagikan:

2 komentar

  1. a great sequel deb..smp mrinding bacanya..spt ada "sstu" yg dahsyat dlm crta ini..keren..

    BalasHapus