:: Simphony in Borneo ::

Prolog

Jika saja aku tidak pernah pindah kekota ini, maka semua ini tidak akan pernah terjadi.

I : Jauh

Siang ini matahari begitu panas menyengat kota ini. Kota Pontianak yang terletak ratusan kilometer dari Jakarta tempat tinggalku sebelumnya. Pesawat yang kutumpangi sudah landing semenjak setengah jam lalu. Namun ayahku belum tiba di airport ini untuk menjemputku.

Jenuh seketika melanda pikiranku namun tiba-tiba dering suara handphone memecahkan lamunanku.

“Dyandra, apa kamu sudah tiba di airport?” tanya suara ibuku dari handphone

“Ya ma, semenjak setengah jam lalu. Tapi papa sampai sekarang belum kelihatan batang hidungnya untuk menjemputku. Sudah mati kebosanan aku dibuatnya.” Kataku kesal

“Aku sudah berulang kali mengingatkannya untuk tidak terlambat tapi ia tetap saja mengulanginya” kata ibu ku yang ikutan kesal

“Wait ma..” kataku kaget ketika papa sudah tiba-tiba ada ditempatku

“Kenapa Di?”

“Papa sudah tepat ada disampingku, bye ma kutelepon lagi nanti..” kataku sembari memandang papa sungut

“Maaf sayang papa telat, tadi papa ada urusan sedikit” kata papa seperti tanpa dosa

“Well, baiklah bisakah kita berangkat sekarang?” kataku boring

Tak kusangka aku harus menghabiskan masa remajaku dikota yang sepi ini, kota yang kami tuju berjarak kurang lebih 200 km dari kota Pontianak dan menempuh lima jam perjalanan darat. Kota tujuan kami tidak mempunyai airport sendiri, dan kami dibuatnya susah dengan menempuh jarak ratusan kilometer untuk sampai kekota bernama Sanggau itu. Sanggau mempunyai penduduk dengan beragam etnis. Ketika sampai di Sanggau terkejut aku dibuatnya. Ternyata kota itu tidak sesepi yang kukira walau hanya kota berukuran kecil.

Papa dan mama resmi bercerai tiga bulan lalu setelah bertahun-tahun berpisah, dan hak asuh ku jatuh kepada papa. Karena aku masih dibawa tujuh belas tahun aku harus ikut sementara dengan papa hingga umur dua puluh satu tahun. Itu kesepakatan papa dan mama dalam sidang perceraian.

Saat itu aku sangat marah kepada mereka, bagaimana bisanya mereka tega menjadikan aku seperti barang yang seenaknya mereka oper. Namun apa daya, aku masih dibawa umur dan masih dalam kuasa orang tua. Ketika kutanya alasan mereka bercerai mereka mengatakan sudah tidak cocok lagi.Itu hal yang mustahil bagiku, karena selama mereka masih bersama, aku melihat mereka sangatlah serasi. Namun hak asuhku akan terhapus, jika saja nanti aku menikah, tentu saja kuasa itu akan jatuh kepada suamiku. Itu aturan mainnya, dan aturan itulah yang membuatku muak.

“Dyandra, kenapa kau melamun? Cepat bantu aku turunkan tas mu, kita sudah sampai di istana baru mu. Inilah rumah kita” kata papa memecahkan lamunanku.

Aku terkesima memandang bangunan rumah yang sangat indah, tak kusangka papa mempunyai asset rumah seperti ini. Pekarangannya luas sekali. Terlalu luas malah. Seperti bukan di kota Sanggau pada umumnya. Rumah papa terletak diluar kota Sanggau, disisi jalanannya begitu banyak pepohonan rindang. Rumah bertipe rumah panggung itu seperti istana tersembunyi ditengah hutan. Bangunannya banyak terbuat dari kayu dan kaca, dan begitu banyak jendela dan pintu. Aku ingat waktu aku kecil aku pernah kemari. Rumah ini adalah warisan ayah papa turun-temurun.

Kulangkahkan kaki menyusuri jalan setapak yang terletak diatas kolam ikan yang cantik. Ikan-ikan mas yang besar begitu lincah berenang menyusuri kolam indah itu. Disisi-sisinya berjejer bunga-bunga indah yang tak kuketahui namanya. Batu-batu besar berlumut, pepohonan besar dan rindang, pohon-pohon pakis yang menempel di dahan pohon melengkapi indahnya taman pekarangan rumah itu.

“Aku yakin kau akan menyukai rumah ini Dyandra..” kata papa sembari menarik tanganku dan akupun mengikutinya memasuki istana baruku.

“Ku ajak kau berkeliling untuk melihat rumah ini ya sayang..” sambung papa.

Aku diam saja, aku mengikuti langkah papa. Menyusuri halaman belakang rumah ini ternyata tambah membuatku kagum. Kupikir akan ada tembok besar yang membatasi tanah milik papa seperti rumah-rumah besar di Jakarta yang selalu ditemboki tinggi-tinggi. Ternyata tidak ada, hanya ada kawat berduri yang sepertinya untuk menghindari binatang masuk. Kata papa halaman belakang nya menembus sampai kehutan dan kepegunungan. Wow.. aku berdecak kagum. Indah sekali pepohonan itu. Papa menunjukkan bangunan kayu yang ada diatas salah satu pohon besar dibelakang rumah.

“Lihat Di’ sayang..itu rumah pohonmu. Dulu waktu kau kecil, kau suka sekali tidur disana. Papa merawat dan merenovasinya sedikit supaya kamu bisa memakainya kembali..” kata papa sembari menunjukkan rumah pohon itu.

“Oh papa, aku senang sekali..” ku akui aku tidak pandai menyembunyikan perasaan, dan saat itu perasaan senangku tampak jelas di hadapan papa, dan papa pun tersenyum melihatku.

“Papa sudah mengurus administrasi sekolahmu disini. Kamu akan sekolah di kota, jaraknya memang agak jauh sekitar satu jam dari sini. Kamu harus bangun lebih pagi dan setiap hari akan diantar jemput oleh supir papa, Pak Tardji. Kamu tidak keberatankan sayang? Apa kamu mau papa sewakan rumah di kota?” tanya papa agak kawatir.

“Oh tidak pa. Aku tinggal disini saja. Aku rasa akan betah disini..” jawabku sembari menatap sekeliling.


II : Pandangan Pertama

Sekolah itu tampak seperti gudang besar, kenapa papa menyekolahkan ku disekolah ini pikirku. Dengan terpaksa kulangkahkan kaki menyusuri sekolah yang sebenarnya mirip gudang tua itu. Rasanya gengsi tiba-tiba menyelimutiku. Bagaimana tidak, anak Jakarta yang sebelumnya sekolah di SMU ternama dan terkenal tiba-tiba harus bersekolah dikota kecil yang gedungnya lebih mirip gudang. Kusibakkan rambut panjangku ketika berjalan melangkah kedalam gedung dan mencari ruangan bernama Tata Usaha.

Saat itu kulihat anak lelaki bertubuh kekar, berkulit kuning kemerah-merahan seperti kulit Indian, bermata sipit dan berambut agak panjang. Sesaat kami saling bertatap mata. Tiba-tiba jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya. Dengan segera aku memalingkan muka berharap tidak berpas-pasan mata lagi dengannya.Siapa dia? Kenapa dia menatapku seperti itu? Dan kenapa matanya setajam itu? Belum pernah seumur hidupku menjumpai mata seperti itu.

-

Kelas Tiga IPA satu adalah kelas baruku sekarang. Kulihat sekeliling ternyata muridnya tidak begitu banyak. Hanya dua puluh orang termasuk aku. Kulihat banyak sekali yang bemata sipit. Mayoritas yang bersekolah disini mungkin beretnis cina dan melayu pikirku.

Tiba-tiba lelaki tua menyuruh masuk karena melihatku sedari tadi berdiri didepan pintu kelas.

“Kamu pasti Dyandra Kinarraya?” tanya lelaki yang sepertinya beretnis cina

“Iya benar, anda?” tanya ku tak sopan. Dan kemudian aku menyesali ketidaksopananku

“Saya Liem Kiong, panggil saja Pak Liem. Saya wali kelas kamu, silahkan masuk kelas” katanya sopan

Dan kamipun melangkah memasuki kelas itu. Anak-anak murid lain yang sedari tadi ribut tiba-tiba hening dan semua matapun langsung menuju padaku. Aku salah tingkah dibuatnya. Kulihat dipojok kanan anak lelaki berkulit Indian itu ada dalam kelas. Jantungku pun berdetak kencang.

“Perkenalkan anak-anak, ini murid baru pindahan dari Jakarta. Dan dia orang Jawa” kata Pak Liem melihatku tegas.

“Perkenalkan dirimu dik” desak Pak Liem sembari berbisik padaku

“Hi. Namaku Dyandra Kinarraya, aku pindahan dari Jakarta” kataku gugup. Aku bingung kenapa juga Pak Liem harus menyebutkan etnisku.

Akupun duduk di bangku tengah barisan nomor tiga dari depan. Aku sangat menyesali kenapa aku harus duduk ditengah kelas seperti ini. Aku jadi tidak bisa melihat lelaki Indian itu. Hei, kenapa juga aku harus melihat lelaki itu.

-

“Bagaimana hari pertamamu Di’?” tanya Papa saat makan malam

“Tidak baik pa, kenapa papa menyekolahkanku disekolah yang gedungnya mirip gudang pa?” jawabku

“Di’ sayang..Sanggau bukan kota Jakarta yang besar, sekolahmu itu adalah sekolah terbesar dikota ini. Kecuali kalau kamu tidak mau bersekolah, papa bisa memanggilkan guru privat untukmu.” Kata papa tenang sembari menyuapi sendoknya.

“Hah? Sekolah itu sekolah terbesar disini?”

Bagus. Berarti aku memang terjebak dikota kecil yang penduduknya mayoritas cina, melayu dan dayak. Andai saja papaku bukan orang Kalimantan tentu aku tidak akan terdampar dan menghabiskan masa remajaku disini. Tapi kenapa Pak Liem dikelas tadi menyebutkan aku bersuku Jawa? Maksudku, bagaimana dia mengetahuinya? Nenek dari Mama memang bersuku Jawa. Sedang Kakek dari mamaku bersuku Madura. Hanya sedikit yang mengetahui aku berdarah keturunan Jawa. Aneh sekali. Sepertinya dikota ini penuh dengan pengkotak-kotakkan suku.

Dugaan ku sepertinya semakin kuat, ketika disekolah ku lihatpun begitu. Cina berkelompok dengan Cina, yang melayu juga dengan melayu. Aku merasa seperti terasing ditempat yang paling terasing. Karena hanya aku yang berdarah Jawa, dan tentu saja lelaki itu. Lelaki dayak dugaanku, karena lelaki itu mungkin satu-satunya orang Dayak disekolah. Sebentar lagi pelajaran yang paling tidak kusukai, olah raga. Kalau di Jakarta aku selalu menghindari mata pelajaran ini dengan membolos. Pergi ke mal dengan teman-teman, atau menghabiskan jam pelajaran di kantin sembari menikmati nasi goreng kesukaanku.

Tapi disini tidak bisa. Kemana aku harus membolos. Tidak ada yang menarik disini, hanya ada kedai kopi di pasar dan tempat makan di ruko-ruko. Bahkan mal pun tidak ada. Dengan terpaksa aku mengikuti mata pelajaran ini yang kebetulan adalah badminton. Aku benci sekali, karena aku sama sekali tidak bisa bermain badminton. Memukul kok saja aku kesulitan apalagi menangkisnya. Dengan terpaksa aku hanya duduk menonton para murid yang lain berlatih.

“Kenapa tidak ikut main?” tanya suara laki-laki yang tiba-tiba mengejutkanku. Ternyata laki-laki Dayak itu.

Jantung ku berdegap kencang lagi. Ntah kenapa aku selalu kesulitan mengontrol perasaanku. Juga emosiku. Aku bukan orang yang pandai menyembunyikan suasana hati tepatnya. Saat ini aku grogi sekali dekat lelaki itu. Aku berusaha untuk tidak menampakkannya.

Tenang saja, tidak usah takut. Aku tidak akan melukaimu..

“Hah? Apa katamu?” kataku kaget

“Aku tadi nanya, kamu kenapa gak ikut main?” katanya mengulangi

“Tidak. Setelah itu kau bilang apa?”

“Aku tidak bilang apa-apa? Kamu kenapa? Kenapa kamu gugup sekali?” katanya mencurigai aku

“Hah? Tidak. Hmm..Aku tidak bisa main badminton. Kamu kenapa gak ikut main?” tanyaku cepat mengalihkan perhatian

“Aku bosan. Aku ingin membolos. Tapi aku sudah absen banyak pelajaran olah raga, jadi kali ini aku harus mengikutinya. Daripada nilaiku jelek..” katanya malas sembari menatap lapangan olah raga.

Aku tertegun melihat bola matanya. Sangat hitam. Dan tajam ketika memandang sesuatu. Rambutnya juga hitam lurus. Badannya kekar tidak seperti kebanyakan anak SMU lainnya. Jarang sekali aku menemukan anak SMU bertubuh tegap seperti dia.

“Siapa namamu?” tanyaku

“Oh maaf, aku tak sempat memperkenalkan diri..Namaku Carlos” katanya santai sembari memainkan sedotan minumannya.

“Carlos? Nama yang aneh untuk orang Indonesia, apa kamu ada keturunan orang asing?” tanyaku penasaran

“Tidak, aku juga tidak tahu kenapa ayahku menamakannya seperti itu.”

“Carlos, apakah kamu keturunan Dayak? Maaf.. kulitmu seperti orang dayak, begitu juga matamu..” tanyaku, sejenak aku berpikir kenapa setiap aku penasaran sopan santunku langsung menghilang. Kali ini aku menanyai Carlos dengan tidak sopan

“Kenapa kau begitu banyak bertanya?..” katanya sembari berlalu meninggalkanku

-

Aku mengutuki diriku yang tidak sopan. Bagaimana mungkin aku tidak menjaga sikapku. Apa yang nanti akan dipikirkannya dengan sikapku tadi. Dyandra anak Jakarta yang tidak punya sopan santun.

“Di’ kenapa kamu gak makan?” kata papa yang melihatku melamun dimeja makan

“Eh..ya..aku..” kataku gugup

“Di’, ada apa? Kok kamu aneh? Apa yang terjadi disekolah?” tanya papa kawatir

“Tidak pa..aku gak apa-apa..” jawabku sembari menyuapi sendok makan.

“Di’ sabtu nanti kamu kemana? Papa berencana mengajakmu bersenang-senang kehutan. Kamu pasti suka.. Kita camping dan pulang hari minggu..”

“Oh, ok pa..”

Bagikan:

2 komentar

  1. mbak debby....

    ayo aq tunggu cerita mbak ttg skoliona...

    ni aq udah mulai mbuat ni mbak...
    aq join ma mita (riaparamita)

    mbak, add ymq yahhh sehan_psyco
    nanti qt ngobrol lebih banyak masalah bukuna...

    kalo sudah baca msg ni, kirim msg ke aq yahhh... di blogq ato ym q...

    aq tunggu kabarna mbak....

    BalasHapus
  2. ga ada deadline kapan. secepatna ajah mbak. mabk bisa menceritakan sejujur2na apa yg mbak rasakan dari awal mula tau skolio sampe sekarang. seperti mbak curhat kepada pembaca.
    mbak mgk bisa bantu unutk mencari temen2 skolio laennya yg maw bergambung mengsharekan ceritana.

    udah aq postingin di forum msi, mudah2an mendapatkan respon positif dari temen2 skolio laennya.

    mbak trie msi dan beberapa dokter udah bersedia membantu.

    aq tunggu balesannya di blogq yah...

    BalasHapus