You would need a good lawyer to set you free from the Jail of My Heart

"You would need a good lawyer to set you free from the Jail of My Heart"



---


Aku cinta banget sama kamu..
Aku gak mau pisah sama kamu..
Pokok nya aku gak mau kehilangan kamu..

Please jangan ceraikan aku..
Jangan tinggalin aku..
Please..


Dan darah pun bersimbah jatuh kelantai, rupanya dia nekat untuk menyayat tangannya dengan silet berkarat yang terletak di kusen jendela.

Pedih pun ikut terasa seiring kepedihan hatinya, ntah apa yang ada dipikirannya. Sudah gilakah dia? Sudah sintingkah otaknya hingga nekat menyayat-nyayat tangannya?

Aku pun tetap tak bergeming. Memandangnya dengan rasa jijik dan benci padanya. Dia yang telah membohongiku. Wanita ini sudah sangat menyakitiku. Dia pergi dengan lelaki itu. Dan bisa-bisanya mengaku itu bukan selingkuhannya.

Aku cuman ke mal..
Gak lebih dari itu..
Aku hanya bosan selalu dirumah
Kenapa kamu selalu melarang aku pergi sama teman-temanku?

"FINE ! Kalo kamu gak suka aku larang, kita PISAH!" Hardikku tadi.

Dengan emosi kukatakan kata-kata racun itu. Sesaat rasa penyesalan datang merasuki jiwaku yang telah disenggamahi oleh amarah setan, namun rasa penyesalan itu tak bertahan lama. Dengan brutalnya setan telah membunuh rasa itu dan mencincangnya hingga tak berdaya.

Tapi dia tidak menerima kata-kata itu, dan sekarang dia semakin menangis menjadi-jadi. Sembari menahan rasa sakit ditangan yang disayatnya.

Aku masih tetap tak bergeming. Aku tetap berdiri. Kepalaku tetap angkuh mendongak, namun mataku diam-diam mengawasi gerak-geriknya. Dan dia duduk hampir setengah bersujud didekat kakiku. Menangis tak henti henti. Dan menarik-narik kakiku.

Aku mohon please..
Jangan ceraikan aku..
Aku mohooooon..

Jerit tangisnya memecahkan kesunyian malam ini. Tangannya yang bersimbah darah memegang kaki ku. Mengemis padaku. Aku sudah tidak perduli lagi padanya. Bagiku dia seperti pelacur murahan yang menjajakan tubuhnya kepada semua lelaki yang menghampirinya.

Setan pun semakin menyusupi relung hatiku, semakin menyusup kedalam sendi-sendi batas kewarasanku. Setan yang semakin hitam dan menggelegar dikepala kembali berteriak dengan dasyat. Dia, wanita yang sudah mendampingiku dua tahunan ini, saat ini tampak seperti sosok yang sangat ku benci.

Dan setan semakin senang menari dalam jiwaku, seperti membakar gelora amarah agar semakin membara. Tawanya semakin menggelegar memenuhi isi kepalaku. Kali ini setan menang lagi.

"Tak tahukah kamu? Seorang istri harus menurut pada suaminya!" kataku padanya

"Dosa besarlah kamu bila menjadi istri pembangkang!" lanjutku

Alasan sederhana berbau agama itu kali ini kubawa dalam perkara ini, setan adalah raja segala raja kejahatan. Taktiknya dalam memenangkan peperangan melawan malaikat sangatlah culas dan cerdas, setan yang mengakali ku dengan berbagai pengetahuan untuk menyakiti istriku sendiri.

Tiba-tiba aku merasa semakin muak kepadanya, kuangkat kaki ku dan kusingkirkan tangannya dari kakiku. Ku melangkah pergi meninggalkan dia sendiri di rumah ini. Aku sudah tidak perduli lagi.

Selamat tinggal wanitaku..

-----

"Liz..Liz.." kataku ragu

Ku ketuk pintu rumah berwarna coklat ini. Namun tidak ada suara yang menjawab. Lama ku menunggu tanpa ada jawaban dari dalam, akhirnya kuputuskan untuk membuka pintu yang tak terkunci ini dengan perlahan.

OH MY GOD..

LIZ !

Gemetar ku panggil orang sekitar dirumah ini. Namun siang itu komplek rumah dalam keadaan sepi.

Rama, lelaki muda yang sudah menghantui hati dan pikiranku bertahun-tahun telah kuhubungi lewat telepon selular. Lamaku menunggunya didalam kamar Eliz. Eliz yang pingsan, kini kutekan tangannya yang terluka dengan sapu tangan ku agar pendarahannya terhenti.

Kemana Bayu pikirku, teganya dia meninggalkan istrinya dalam keadaan begini.

Dua jam lalu, terkejut aku dibuatnya ketika Eliz menelepon dengan suara tangisan dan mengatakan aku harus datang kerumahnya secepatnya.

---

Dirumah sakit.

"Apa yang terjadi Sam?" Kata Rama yang sedari tadi diam menatap Eliz yang terbaring di ranjang kamar rumah sakit.

"Gak tau Ram, tadi dia telpon aku..dia menangis.." jawabku menahan pedih. Luka ditangan Eliz seakan terasa di hati ku.

"Jangan-jangan, dia bertengkar lagi sama Bayu.. Tapi dimana Bayu, sudah kau hubungi dia?" Kata Rama pelan

"Sudah ku SMS, namun belum ada balasan, entahlah Ram..kamu jaga dia disini ya..aku harus kekantor, ada klien menungguku siang ini.." jawabku tangkas dan segera berlalu dari ruang tunggu rumah sakit itu.

Aku berjalan menahan tangis. Hanya menundukkan kepala.

Elizabeth dan Rama. Mereka adalah temanku sedari kecil, tumbuh dan berkembang bersama karena rumah kami dulu berdekatan. Eliz menikah sekitar dua tahun lalu, menikah dengan Bayu lelaki yang baru dikenalnya sekitar tiga bulanan. Hal itu menghancurkan hati Rama. Rama sedari SMU sudah mencintai Eliz diam-diam, dan aku?

Pun begitu. Mencintai Rama hanya dalam hati saja. Hingga kuputuskan untuk menghapus bayang-bayangnya dengan begitu banyak laki-laki yang silih berganti mengusir sepiku dan sejenak menghapus bayang Rama dari jiwaku.

Rama dan aku bekerja satu kantor. Kami sama-sama mendirikan Law Firm dari awal. Sejak baru tumbuh hingga besar seperti sekarang ini. Law Firm yang membuat namaku melambung tinggi dan terkenal didunia hukum.

Tiga tahun Law Firm ini aku bentuk bersama Rama, dan Sinta rekan ku yang kukenal dari kami sama-sama kuliah di Atmajaya. Tiga tahun aku berusaha membela klien-klien ku dari yang bonafit hingga yang tak mampu sekalipun. Puluhan orang kami menangkan perkaranya namun untuk perkara yang satu ini tak mampu secuilpun aku bela.

Aku tak berdaya apabila menghadapi Eliz. Egonya, dan cintanya pada Bayu mengalahkan batu karang dihati ku. Aku sangat menyayanginya seperti aku menyayangi adik-adikku. Namun bila ini terus berlanjut, Eliz tidak hanya menghancurkan dirinya sendiri. Tapi juga menghancurkan aku dan Rama.

---

Kutatap matanya yang terpejam, ku amati selang selang yang menyambungkan botol infus ke jarum yang masuk ke nadi tangan kanannya. Ntah apa yang ada dalam pikirannya hingga dia melakukan hal seperti ini. Aku sudah kehabisan kata-kata dalam menasehati nya. Sepertinya kata-kataku hanya dicerna disekitar telinganya, tidak diolah dalam logikanya.

"Liz..Liz.." kataku pelan berharap Eliz bangun dari tidurnya

Dia masih belum tersadar dari mimpinya. Biarlah dia bermimpi indah malam ini, walau disaat nanti dia tersadar sudah begitu banyak beban yang ditumpahkan langit kepadanya. Akhirnya kuputuskan untuk menginap di kamar rumah sakit ini. Walau sebenarnya hati ku enggan untuk menemaninya malam ini.

"Sam..Samantha.." kata suara laki-laki pelan dari belakang

Aku tersentak kaget ketika ada tangan menyentuh bahu ku diiringi suara lembut. Arh, rupanya itu Rama.

"Ram, kok belum pulang?" kataku sembari menoleh dan menyilahkannya duduk di sofa kamar itu.

"Sam, kamu pulang aja, biar aku yang menjaga Eliz disini.. " Kata Rama sembari memandang Eliz kawatir.

Ditutup mukanya dengan kedua tangannya seakan hendak menyembunyikan kepedihan hatinya. Namun aku tahu itu, sekeras apapun dia berusaha tidak menampakkannya didepanku, tak akan mampu dia menyembunyikan segala perasaan yang sedang dialaminya.

"Ram, aku pengen nemenin Eliz.." Sahutku

"Gak usah Sam, biar aku aja. Kamu pulang aja..Kamu pun butuh istirahat, sudah tiga hari kamu gak tidur menjaga Eliz dan mengurusi urusan kantor. Lagipula urusan kantor sedang crowded kan..Oh ya, klien dari Singapura itu sudah kutangani berkas-berkasnya bersama Sinta. Sudah kutaruh dimejamu.." Kata nya lirih

"Thanks Ram..kamu yakin menjaga Eliz? Nanti kalau Bayu datang, bisa bertengkar lagi kamu dengannya.." kataku

"Gak apa-apa Sam..Bayu bisa kutangani, lagipula sudah saatnya aku bicara dengan Bayu.." kata Rama tegas

"What? Jangan Ram. Kamu tahu watak Bayu, juga Eliz. Kalau Eliz tahu, bisa-bisa kamu yang dihardiknya.." kataku takut

"Bukan Samantha yang kukenal bila melarangku seperti ini. Kamu pun tahu aku Sam.." katanya semakin tegas.

Namun rupanya perdebatan kami membangunkan Eliz dari tidurnya.

"Sam..Sam.." kata Eliz lemas

"Liz, syukurlah kamu sudah siuman.." kataku

"Liz.." kata Rama pelan

"Kenapa aku ada disini? Mana Bayu?" kata Eliz pelan

"DAMN!" kata Rama kesal sembari menengok kea rah pintu kamar

Rupanya Bayu sedari tadi berdiri diujung pintu. Kemungkinan dia mendengarkan percakapan kami.

---

Setelah pertengkaran Bayu dan Rama dirumah sakit seminggu lalu membuatku semakin sukar berpikir. Oh God..Tuhan selalu rumit memberikan perjalanan hidup kepada hamba NYA, perjalanan yang DIA berikan tidak pernah ada yang lurus,mulus dan terarah, selalu saja berbelok-belok, tersendat dan curam. Semua kisah yang diberikan NYA hanya berisikan cobaan dan perjuangan manusia untuk saling menyerang, menyakiti demi bertahan hidup dimedan perang.

"Sam, Mr Hirota ingin menemuimu di kantornya di Menara Dea Kuningan siang ini.." kata Sinta tiba-tiba memecahkan lamunanku

"Mr. Hirota? Mr. Hirota siapa?" kataku malas sembari memutar-mutar pulpen

"Mr Jonathan Hirota Sam, pengusaha minyak di lepas pantai Kalimantan itu. Dia sedang terkena kasus berat. Kemarin sekretarisnya menelepon katanya beliau ingin konsultasi dulu dengan kita dan kemungkinan besar dia ingin menjadi klien kita" Jawab Sinta

"OH GOD, Mr Jonathan Hirota?" kaget ku

"Ya ampuun Sam, sudah kukatakan dua kali mengenai hal ini, rupanya kesibukan mu mengurus Eliz membuat konsentrasi mu terpecah ya?" kata Sinta

"Maaf Sin, aku lupa..yah mungkin karena Eliz..Oh ya..kenapa tiba-tiba Mr Hirota ingin memakai jasa kita?"Tanyaku

"Sam..Mr Hirota kini terjerat kasus suap dengan jaksa, namun ada lagi kasus yang tengah mencekiknya. Yaitu kasus rumah tangganya. Istrinya menggugat cerai karena kasus KDRT. Mr. Hirota yang sekarang sudah berwarga Negara Indonesia ini sejak satu tahun lalu kebingungan karena dia merasa tidak melakukan kekerasan terhadap istrinya, namun dikantor polisi saat istrinya melapor, istrinya menyertakan bukti visum et repertum dari rumah sakit bahwa yang membenarkan istrinya mengalami tindak kekerasan. Mr Hirota ingin kedua kasus ini ditangani oleh dua pengacara yang berbeda. Sayang sekali kasus itu tidak bisa ditangani dengan baik oleh Pak Ginting pengacara nya, toh nyatanya Mr. Hirota tetap terjerat pasal-pasal yang semakin memberatkannya, coba kalau Mr.Hirota menyerahkan kedua kasusnya kepada kita, tentu kamu akan memenangkannya kan Sam..Ohya kemungkinan juga Mr. Hirota ingin kita menangani kasus suap itu karena Pak Ginting tak mampu menanganinya.." jelas Sinta panjang lebar

"Oh.. Aku tahu kasus itu, biar saja dia terjerat kasus itu, karena si Mr Hirota itu memang menghalalkan segala cara untuk meraup keuntungan. Pernah dia memecat ribuan pegawai nya di pabrik Tekstilnya hanya karena buruh-buruh itu meminta kenaikan gaji. Peristiwa itu terjadi sekitar 6 bulan lalu.. Lalu untuk kasus perceraiannya kenapa Mr. Hirota tidak mau menceraikan istrinya? Bukankah dia pernah ingin menceraikan istrinya satu tahun lalu? Lalu kemudian dia tarik lagi?" Tanya ku

"Sam, memang waktu itu Mr. Hirota ingin menceraikan istrinya, tapi setelah istrinya ingin dia membagi harta gono-gini Mr. Hirota kemudian menarik kembali tuntutannya. Jadi permasalahannya disini adalah Mrs. Hirota selain menuntut perceraian dia juga menuntut harta gono-gini, dan Mr. Hirota tidak mau hartanya terbagi dengan istrinya dia ingin memakai jasa kita agar dia bisa cerai tanpa harus membagi hartanya.." jawab Sinta

"What? Apa kamu sudah mengapprove nya? Maksudku, kita belum menerima tawaran untuk bekerja dengannya kan? Kalau begitu maksudnya dia. Aku tidak mau. Kamu tahu watakku Sin, enggan aku bekerja dengan orang yang seperti itu..Mending kita bekerja dengan istrinya saja.." jawabku mendumel

"Belum sih, kan sudah kubilang, dia baru mau bertemu denganmu siang nanti untuk menanyakan kamu mau tidak jadi pengacaranya.." jawab Sinta

"Sudah batalkan saja, bilang saja aku sudah kebanyakan klien. Tak sempat mengurus perceraiannya, sebaliknya kamu hubungi diam-diam Mrs. Hirota, kita tawarkan jasa kita kepadanya.." jawabku tersenyum.

"HAH? Sam..Mr. Hirota menawarkan harga dengan US Dollar, masa kita menolaknya? Sedang Mrs. Hirota? Dia hanya ibu rumah tangga yang mungkin tak mampu membayar kita semahal suaminya? Kamu yakin Sam?" Tanya Sinta ragu

"Aku yakin Sin. Dengar, terkadang ada hal yang tidak bisa dibayarkan dengan uang. Tapi dengan keyakinan dan harga diri. Kamu tahu? Ku rasa Mrs. Hirota memang membutuhkan kita..sudah laksanakan saja apa kataku tadi, untuk urusan Rama, biar aku yang mengatakannya.." kataku tegas

---

Berbulan-bulan kemudian

"Kasus Mrs.Hirota dan Eliz sebenarnya hampir sama Ram.." kataku pada Rama setelah keluar dari ruang sidang.

Akhirnya kami memenangkan perkara Mrs. Hirota. Dan Mrs. Hirota memenangkan sebagian harta Mr. Hirota yang menyebabkan Mr.Hirota harus jatuh bangkrut. Karena sisa hartanya setelah dibagi dengan Mrs. Hirota harus dia bayarkan untuk mengganti rugi uang perkara suap yang masih dia jalani persidangannya. Kasus suap itu mandek ditengah jalan, dia terus menerus tarik ulur dengan jaksa penuntut umum.

Sedangkan Mrs. Hirota tersenyum padaku di akhir sidang tadi yang telah memberinya status baru yaitu janda.

"Sam, wait.." kata Mrs. Hirota tergesa-gesa

"Sam..thank you so much.." katanya tersenyum

"Your welcome.." kataku membalas senyumnya

Dan kami bertiga pun berlalu meninggalkan gedung pengadilan itu.

---

"Sam, tadi katamu apa? Kasus apa yang sama dengan Eliz?" tanya Rama dimobil

"Lupakan saja Ram..tidaklah penting.." kataku

"Apa maksudmu gak penting? Apapun yang menyangkut Eliz sangat penting buatku" katanya tegas

"Ram, tenang dulu. Jangan langsung bersemangat ketika mendengar nama Eliz. Dia sudah tenang Ram sekarang. Dia sudah tenang.." jawabku menahan pedih.

Eliz. Berbulan-bulan semenjak dia keluar dari rumah sakit, dan semenjak kami sibuk mengurusi kasus Mrs. Hirota membuat kami agak lupa memantaunya, ternyata dua minggu setelah Eliz keluar dari rumah sakit dia bertengkar lagi dengan Bayu.

Rupanya pertengkaran itu berujung petaka. Eliz ditemukan tewas bunuh diri dikamarnya dengan leher tergantung. Saat itu kupikir Eliz dibunuh oleh Bayu karena kematiannya yang agak mencurigakan, namun hasil visum mengatakan bahwa Eliz memang bunuh diri. Dan Bayu pun bebas.

Kasus ini diam-diam masih kuselidiki. Karena aku masih saja menyimpan ragu terhadap Bayu.

Setelah Eliz pergi hatiku semakin hancur, begitu juga Rama. Kepergiannya membuat kami sempat tak focus dengan pekerjaan yang sedang kami hadapi, sempat hal itu membuat Mrs. Hirota sedih dan putus asa, namun akhirnya tertangani juga.

Dan setelah itu, kuhapus daftar laki-laki yang silih berganti mengisi kesepianku, kufokuskan untuk Rama dan pelan-pelan menghapus Eliz dari hatinya, agar namaku terukir indah dihatinya. Walau sekilas bagiku itu adalah hal yang tak mungkin, tapi ku yakin suatu saat nanti akan terwujud.

"Ram..Eliz memang sudah tenang sekarang disurga. Namun Bayu, tidak akan pernah tenang. Dia akan kuseret kepenjara karena kasus pembunuhan." Kataku tegas sembari menatap jalan yang akan kutelusuri hari itu.

Hari ini, disinilah perjuanganku yang sebenarnya akan dimulai. Perjuangan membela hak Eliz.


---

The end

Bagikan:

0 komentar