Sadness

Kulihat langit. Masih tetap biru cerah dan menyilaukan mata. Angin semilir berhembus meniup dedaunan ditaman ini. Taman kecil yang terletak di sudut kota terpencil yang jauh dari kebisingan ibukota dan gemerlapnya kota metropolitan.

Ku hela nafas, masih menatap langit. Kiranya hujan tidak akan turun sore ini. Lamunan ku melambung jauh sembari menatap langit biru. Ku ingat tatapan matanya, ku ingat senyumnya yang hanya menyimpul sedikit diujung bibirnya. Dia masih sama, tidak berubah. Masih tetap Rara yang ku cinta. Hanya saja beda nya, saat ini tubuhnya semakin lemah, hanya mampu terkulai lunglai di kasur rumah sakit.

Rara, kekasih ku. Tunangan ku dan calon istriku. Menderita penyakit yang belum berhasil didiagnosa dokter. Namun kondisinya sudah sangat kritis. Tidak sadarkan diri tergeletak di kasur rumah sakit dengan ventilator dan alat alat kedokteran lainnya yang membantunya untuk tetap bernafas. Sudah 4 bulan lamanya dia terbaring disana.

Rara, kekasihku. Adalah kebahagiaanku. Adalah mimpi semu yang kini ragu kuraih. Sakitnya, menimbulkan kebimbangan dalam hatiku. Namun jiwa ku mengisyaratkan padaku, bahwa kebimbangan itu adalah bentuk kecil pengkhianatan cinta.

Kulangkahkan kaki menikmati mentari, mengucap syukur pada Illahi karena masih diberi kesempatan menikmati sore ini. Menuju rumah sakit tempat Rara terbaring, yang tidak jauh dari taman ini.

--

“Angga, gimana kabar mu hari ini? Kamu semakin kurus dan lusuh..” sapa Mama Rara yang biasa ku panggil mama.

“Alhamdulillah ma..masih bisa berjalan menuju kemari..” jawab ku dengan yakin

“Istirahatlah nak, biar kami yang menjaga nya malam ini. Pulanglah dan tidurlah..Jangan biarkan orang tua mu semakin menjadi jadi kekawatirannya..” jawabnya dengan memohon.

“Maaf ma, saya tidak bisa meninggalkan Rara..” balas ku dengan tatapan tajam padanya.

Aku tidak bisa meninggalkan Rara, walau hidupku pun jadi semakin tidak terurus. Perusahaan yang kini kuserahkan sepenuhnya pada anak buahku, kini semakin kacau manajemennya. Memang salahku mempercayakan padanya, tapi sungguh, perusahaan itu hanya hal yang kecil dibandingkan Rara.

--

Kucoba pejamkan mata malam ini disofa yang terletak disamping tempat tidur Rara. Namun hati ini ingin tetap memperhatikan terus wajah Rara. Kubuka mataku, ku duduk disofa itu. Ku lihat wajahnya yang semakin hari semakin pucat. Raut muka nya semakin tirus, dan bibirnya pun semakin pucat. Ku kecup bibirnya perlahan, berharap seperti di negeri dongeng. Seperti putri raja yang tertidur ratusan tahun dan datang pangeran nya yang membangunkan tidurnya lewat sebuah kecupan. Setiap malam kulakukan itu. Berharap keajaiban Tuhan terjadi dan membangunkan Rara dari tidurnya.

Ku bisikkan doa ditelinganya, berharap sang malaikat penjaga tidur iba pada ku dan segera membangunkan Rara. Walau doa itu selalu kubisikkan setiap malam, walaupun Rara belum terbangun juga dari tidurnya, aku tetap tidak menyerah. Akan terus kubisikkan itu hingga bergema di alam surga dan Tuhan pun merasa iba padaku. Bahkan kupanjatkan doa untuknya hingga malaikat penjaga tidur merasa bosan dan meminta kepada Tuhan untuk segera membangunkan Rara.

Kulayangkan pandanganku kepada alam yang terlihat dibalik jendela. Alam malam yang sunyi tak bergeming seakan menanti malaikat menyampaikan pesanku kepada Tuhan dan membangunkan Rara. Namun alam semakin terlelap. Dan langitpun menangis malam ini. Gemuruh petir semakin menghujam membahana seakan ingin menghalangi malaikat yang hendak mengadu kepada Tuhan.

Berusahalah wahai malaikatku, bisikku. Sampai kan doa ku kepada Tuhan. Bangunkanlah Rara. Kembalikan lah dia kepelukanku. Karena ku yakin belum saatnya dia pergi dariku.

“Kehidupan hanyalah kefanaan yang terselimuti oleh kematian..” Kataku meneguhkan hati.

--

Fajar menyingsing, sinar mentari menyilaukan pandanganku. Aku harus segera pulang untuk tetap menjalankan tanggung jawabku sebagai pekerja. Kulihat jam tanganku sudah menunjukkan pukul 5.30. Ku kecup Rara sebelum beranjak pergi. Ku genggam jemarinya yang rapuh. Tangannya semakin dingin. Lebih dingin dibanding semalam. Kulihat dia terbujur kaku. Aku terkejut.

Rara pergi dengan kedamaian. Dengan hati yang tenang. Dalam tidurnya dia seperti membisikkan ku. Ya.. kata kata yang semalam seperti berdengun ditelingaku.

“Kehidupan hanyalah kefanaan yang terselimuti oleh kematian..”

--

Seluruh keluarga menangis. Mengiringi Rara. Dia sudah pergi. Tak akan kembali lagi. Rupanya malaikat semalam menyampaikan kepada Tuhan untuk segera membawa Rara kesurga. Agar Rara lebih bahagia disana. Aku ikhlas. Inilah jalannya. Inilah keputusan NYA. Sekeras apapun aku berdoa, sesering apapun aku mengucap ayat ayat NYA, Rara tetap pergi. Sekali lagi. Ini keputusan NYA.

Aku tak mampu berkata apapun saat ini. Kecuali satu tangisan yang sangat aku kenal. Yaitu tangisan hatiku yang tertahan. Dan aku tak berjalan, kecuali melalui jalan setapak yang terjal dan bergelombang. Harus kulalui ini. Walau tanpa pegangan dan perencanaan. Walau dengan mata terpejampun aku tetap harus melalui ini.

Disini, disana dan jauh disana, kemanapun arah yang kutempuh, aku tetap harus melalui ini. Walaupun dengan jarak terjauh sekalipun. Kaki ini tidak boleh menghentikan langkahnya dalam suatu tahap bernama keputus asaan.

Aku masih berada di kehidupan. Sedang Rara sudah menjadi bagian alam yang lain. Ini kehidupan. Aku masih bisa bernafas. Aku masih bisa melanjutkan langkah. Namun ada satu rintangan yang seakan menarikku kembali kemasa lampau.

“Hidup ini berarti saat ini. Kita tidak mungkin kembali kemasa lalu, atau melompat ke masa depan yang masih absurd..”

Namun, masih didalam zona kepedihan. Jiwa ini terluka karena kepergiannya. Tersesat dalam lorong kehampaan nurani. Jiwa ini beku dalam kekosongan kalbu.

Seperti pertarungan jiwa yang kuat. Dia Sang Penguasa memancingku untuk segera beranjak dari ketersesatan ini, namun jiwaku yang lain terus menarik ku seakan tak sudi diriku melanjutkan langkah dalam kehidupan.

Pedih.

Pedih.

--

Kutatap sinar kembali. Mengiringi Rara sampai keasalnya. Dari tanah kembali ketanah. Hujan pun menderu, kunikmati derasnya air yang jatuh dari langit. Seakan langitpun ikut berduka mengiringi Rara.

Kulihat namanya terukir indah dibatu nisan berwarna putih. Suatu saat ketika ku kembali kemari, mungkin hatiku sudah berangsur pulih. Atau mungkin menjadi perih.

Pedih.

Pedih.

--

“Sesungguhnya setiap musibah itu ada ujungnya. Maka seseorang yang ditimpa musibah, niscaya sampai pada ujungnya. Bagi orang yang berakal hendaknya untuk tidur/tidak perduli kepada musibah itu hingga masa nya habis. Sebab melawannya sebelum masa nya berhasil/habis hanya akan menimbulkan kebencian atasnya..”

(Ali Bin Abi Thalib)

--

Cerita ini kutulis berdasarkan kisah nyata. Hanya saja penamaan tokohnya yang berbeda.

Bagikan:

0 komentar