Batas Kesabaran

Jangan biarkan seseorang mempengaruhi jalan hidup mu..

Beberapa saat setelah "digantungi", akhirnya gw paham juga kenapa sikapnya seperti itu. Karena setelah sekian lama gw kenal dia, baru kali ini dia begitu. Gw gak tau harus berkata apa lagi padanya.

Selama ini hidupnya dikelilingi oleh sahabat sahabatnya. Dia selalu bercerita dan berbagi kisah dengan mereka. Begitupun mereka padanya. Itu sah sah saja bagi gw. Bahkan sangat wajar seseorang curhat kepada sahabatnya sendiri. Gw pun punya banyak sahabat. Sering kali gw bercerita kepada salah satu sahabat gw tentang dia. Sahabat gw itu menyayangi gw. Sehinga kalau gw disakiti, dia pun akan marah besar kepada orang yang menyakiti gw.

Tapi sahabat gw punya batasan tertentu didalam hidup gw. Mereka hanya berhak memberikan saran, tidak berhak memaksakan sarannya agar dilakukan sama gw. Misalnya..
" Udah sih Deb, putusin aja dia sih..Lo tuh banyak yang suka. Cowo gak cuma dia doank…"
" Deb, lo harus begini..Deb lo harus begitu.."
Dan lain sebagainya.

Bagi gw kata kata seperti "memaksa" gw untuk melakukan apa yang sahabat gw minta, walau kata kata itu dikemas dengan bahasa lembut dan sopan tetap bagi gw kesannya seperti menginginkan gw melakukan apa yang mereka minta.

TIDAK !

Ini adalah hidup gw. Gw yang berhak menentukan kemana gw harus melangkah, kemana gw harus berjalan. Apapu keputusan gw itu gw sendiri yang menanggung. Sahabat hanya berhak memberi saran.

Tapi mungkin tidak baginya. Yang mungkin sudah "dipengaruhi" oleh sahabat2nya. Yang bagi gw itu sangat tidak masuk akal.

Misalnya ketika gw nulis diblog ini, tentang dia, tentang "tidak pernah" nya gw mengatakan cinta padanya.

Sahabatnya itu mempengaruhi dia kalau gw adalah cewek yang sangat tidak pantas untuknya. Kalau gw adalah cewek dengan CINTA PALSU untuknya.

Gw rasa dia tidak perlu terpancing dengan hal itu, nyatanya memangnya dia tidak pernah mendengar gw mengatakan cinta padanya? Kalau dia tidak munafik, pasti nya dia akan menampik kata2 sahabatnya itu. Lagi pula, apa pentingnya kata kata sayang yang hanya sekedar dimulut tapi tidak benar adanya dihati. Kalaupun cinta gw palsu kepadanya. Dia sudah gw tinggalin dari dulu. Ntah kenapa dia bisa mempercayai kata2 sahabat2nya yang menurut gw tidak benar adanya. Dia yang sudah bersama gw, gw pikir dia bisa membaca sikap gw padanya. Bahwa cinta tidak perlu kata kata. Tapi lihatlah di sikap dan perbuatan gw padanya.

Gw pernah juga posting diblog, tentang kematian abang gw. Ketika gw marah besar kepadanya. Ketika gw bilang kalau pada awal pertemuan gw dengannya gw ga sayang dia.

JELAS. Gw gak perlu klarifikasi ke sahabat2nya yang menyerang gw lewat YM dan comment. Jelas gw marah kepadanya ketika abang gw meninggal. Karena saat itu pun gw marah pada TUHAN. Gw marah kepada siapapun yang telah merebut kebahagiaan gw. Kalau orang yang sudah pernah merasakan posisi gw, yaitu posisi kehilangan ayah dan abang dalam 1 tahun mungkin paham betul bagaimana rasanya ditinggalkan.

Tapi itu tidak berlangsung lama. Gw tidak lagi menggugat TUHAN. Dan ketika gw bilang di awal pertemuan gw dengannya gw gak sayang dia. JELAS, bagi gw mustahil jatuh cinta pada pandangan pertama.

Ketika sahabatnya bertanya sama gw lewat YM apakah gw menyayangi dia sungguh2 ? apa penting gw menjawab pertanyaan itu. Gw rasa dia gak perlu bertanya itu, karena itu adalah urusan percintaan gw dengan nya. Yang penting dia tau tentang perasan gw. Sahabatnya? Gak penting karena yang jelas gw ga sayang sama sahabatnya.

Ketika gw lagi lagi menulis cerita dalam blog gw. Yang gw tuangkan dalam cerpen menggunakan nama nama yang lain. Gw memang menulis karena terilhami oleh kisah kisah yang terjadi pada gw dan orang orang yang gw kenal.

Memangnya pernah Yudi ketika menulis cerpen tentang Martin menggunakan perasaan yudi? Sudah pasti dia memposisikan perasaannya pada si pemeran utama dalam cerpen itu, memangnya pernah anda menulis cerpen, novel yang bercerita tentang orang lain tapi menggunakan perasaan anda? Atau ketika anda menulis cerpen tentang anda sendiri di masa lampau yang anda tulis di masa kini namun anda menggunakan perasaan dimasa kini?

Jika memang adanya begitu, berarti gw sangat amatir. Karena gw menggunakan perasaan si tokoh utama ketika gw menulis cerpen. Yang gw setting sesuai waktu dan tempatnya. Sesuai kondisi dan situasinya.

Gw merasa tidak perlu mengklarifikasi hal itu kepada sahabat2nya. Tapi dia pun sudah tidak mau mendengar dan menyelesaikan masalah ini.

Jadi gw berharap, semoga hatinya yang keras bias luluh oleh jalannya logika di otaknya.

Gw pun punya ego tersendiri. Gw pun gak mau sampai mengemis cinta padanya. Putus atau tidak bagi gw itu tergantung keberaniannya untuk menyatakan isi hatinya tanpa dipengaruhi siapapun. Mendengarkan hati nurani tanpa dihalangi oleh gengsi dan kemunafikan.

Sekali lagi, ini blog gw. Gw bebas menulis apa saja yang gw inginkan selama gak melanggar batas kebijakan blog. Kalaupun gw menulis dengan mencampur adukkan perasaan yang tertuang dalam cerpen, ini hanyalah CERPEN. Jika kebebasan untuk bercerita saja sudah di kekang, apalagi kebebasan yang lain..

Yah..gw cuma bisa menghela nafas saat ini..

Bagikan:

0 komentar