Berapa Harga Cinta mu?

Gw mau posting cerpen gw yang diikutin lomba cerpen di blog indosiar ah..karena ini blog pribadi gw yang bener2 gw banget jadi pengen gw posting ulang.. kmaren sempet blog walking ke beberapa blog yang bagus2 banget..tapi gw lupa link nya..ntar deh gw cari lagi, huehehehe..

enjoy it..

---


Pembuka.
Cinta itu buta. Katanya..
Cinta itu membahagiakan. Katanya..
Cinta itu menyenangkan. Membingungkan. Itu juga katanya..
Katanya orang orang kebanyakan yang sudah mengalami cinta.
Tapi tidak bagiku. Cinta itu menyesakkan. Menyebalkan.

--
“Permisi mbak, saya mau bertanya..” Kata orang asing yang datang kekantor ku siang ini.
“Ya pak, silahkan ada yang bisa saya bantu..” Aku menjawabnya dengan sopan layaknya tugas seorang resepsionis pada umumnya. Padahal kerjaku disini serabutan. Resepsionis,rangkap sekretaris bahkan bisa menjadi supir kalau big boss ku ingin diantar.
“Saya ingin melamar kerja mbak, saya melihat iklan dikoran, katanya disini buka lowongan kerja?” Tanya pria itu.
“Ya, disini memang sedang buka lowongan kerja. Ditinggal saja suratnya pak..”
Kuterima surat lamarannya dan kutumpuk dengan bersama berkas berkas yang lain. Dan orang itu pun pergi tanpa kata kata. Pak Dani HRD manager ku memang sudah memasang iklan disalah satu koran dari 2 hari yang lalu, iklan yang memuat membuka lowongan kerja diperusahan kami. Perusahaan tempat aku bekerja adalah EO wedding planner, pameran, hingga event ulang tahun sampai concert band . Big boss ku bernama Ibu Rossa. Umurnya baru 28 tahun, dia seorang yang sangat disiplin. Kepiawaiannya dalam memimpin suatu perusahaan diusia muda memang patut diacungi jempol.. Mewarisi perusahaan EO ini dari ibunya yang pensiun dini. Walau Ibu Rossa adalah orang yang sangat disiplin, namun jika diluar jam kantor dia sangat friendly. Sering mengajak kami sebagai karyawannya yang jumlahnya hanya 10 orang untuk dinner setelah jam kantor. Ibu Rossa dan Pak Dani adalah seperti partner yang sangat cocok. Dikalangan karyawannya mereka sering digosipkan berpacaran, itu terlihat dari kedekatan mereka ketika pulang kerja bersama , ketika dinner bersama pegawai dan ketika ada event event yang kami tangani. Tapi aku tahu persis kalau Ibu Rossa dan Pak Dani memang berpacaran, karena Ibu Rossa sangat mempercayaiku, baginya aku teman satu satunya untuk diajak curhat atau sekedar mengobrol diwaktu senggang.

Sedang aku hanya lah gadis biasa, yang bermimpi bisa seperti Ibu Rossa. Sering kali aku iri hati kepadanya. Ingin sepertinya. Mempunyai segalanya yang aku inginkan. Banyak pria yang mencintai dan mengejar nya, namun Ibu Rossa tetap rendah hati dan tidak mau menyombongkan diri. Sempurna sekali dirinya dimataku. Hidupku hanya begini begini saja. Monoton. Statis. Hanya rutinitas menjenuhkan yang sering membuat ku muak dan ingin keluar dari semua ini. Namun aku tidak bisa keluar kerja dari kantor ini. Dengan ijasah pas pasan tamatan SMU hanya bisa kerja apa selain resepsionis atau yang setara dengan ini? Mana bisa aku menjadi bos seperti Ibu Rossa. Sering aku berteriak pada sang pencipta, kenapa aku diciptakan dengan keadaan seperti ini, hidup ini menjadi tidak adil adanya.

--

“Dina, saya ingin keluar kantor. Ada meeting jam 1.30. Sekarang sudah jam 11, ayo kita jalan sekarang takut terkena macet dijalan..” Kataku pada sekretarisku.
“Iya bu. Maaf bu, tadi ada yang melamar kerja. Namun Pak Dani sedang tidak ada diruangan. Jadi surat lamarannya saya taruh disini..” jawabnya.
“Hmm..kemana Pak Dani pergi? Apa dia titip pesan?” Tanyaku
“Tidak ada pesan bu, beliau pergi terburu buru. Beliau pergi sekitar setengah jam lalu..”
“Kemana dia..” pikirku dalam hati, tidak biasanya Dani pergi tanpa bilang padaku.
“Ya sudah, titip saja meja depan ini pada Santi didalam, kamu temani saya meeting yaa..” kataku dengan tegas.
Jadwal hari ini sangat padat. Rasanya lelah sekali, ingin rasanya santai sejenak dirumah bersama mama, menemani kucing kucingku yang hampir tidak terawat oleh ku. Andai saja aku bisa seperti Dina. Resepsionis ku yang juga sebagai teman yang kupercaya. Yang sepertinya tidak ada beban dalam hidupnya. Sudah 6 tahun aku mengenalnya. Dulu waktu mama masih memimpin perusahaan ini, Dina setia menjadi karyawan mama. Dulu banyak karyawan mama. Sayang sekali banyak karyawan yang tidak bisa kupercaya hingga harus ku pecat satu persatu. Hingga kini, hanya Dina dan Dani yang bertahan.
“Maaf bu, kalau lewat Casablanca sepertinya macet kalau jam makan siang begini..” kata Dina tiba tiba
“Tidak apa apa, barusan saya mendapat sms kalau meeting ditunda hingga jam 2.30. Kita makan siang dulu Din di bebek Ginyo tebet..”
“Iya bu..”
Tiba tiba hp ku berbunyi lagi. Ach Dani.
“Halo sayaang..” kata Dani
“Kamu dimana dan?” tanya ku kawatir
“Maaf Ros, aku pergi ga bilang bilang. Tadi mama telepon, katanya minta diantar kerumah tante Arni. Oia, mama nanyain kamu tuh, kapan kamu main kerumah?”
“Hmm..kapan ya Dan. Belum sempat kalau minggu ini, kamu kan tahu jadwalku padat, apalagi minggu depan pameran produk ekspor akan dimulai. Aku lagi dijalan nih, mau meeting sama Pak Robert mengenai acara untuk bulan Juni nanti di PRJ..”
“Rossa sayang, kalau kamu ga pernah sempat, lalu kapan kamu kenalan sama mama? Kita kan sudah sepakat akhir tahun ini akan menikah, kalau kamu ga kenal sama mama ku, terus gimana mau dapat restu darinya? ..” Kata Dani setengah mengeluh.
“Iya sayang, aku usahain minggu ini sebelum pameran dimulai..”

--

Kulihat cermin.
Sepertinya baju ini cukup pas buatku. Baju gaun ini diberi Ibu Rossa satu bulan lalu. Malam ini aku hendak memakainya diacara pertunangan ku. Adly. Dia adalah pria yang sudah menjadi kekasih ku 1 tahun lamanya, mulanya dikenalkan oleh teman. Hingga kami memutuskan untuk bertunangan malam ini. Keluarga kami sudah saling mengenal. Ketika aku bercerita kepada Ibu Rossa tentang rencana pertunangan ini, Ibu Rossa menjanjikan akan memberiku gaun special untuk kupakai dimalam pertunanganku. Sepertinya keluarga sudah berkumpul semua di ruang tamu rumahku. Ayah dan Bunda juga sudah menungguku, menunggu sang putri keluar dan disambut oleh pangeran Adly.
“Eh kok senyum senyum sendiri? Sudah selesai dandan nya belum sayaang?” Kata bunda tiba tiba
“Sudah bunda..” sahutku sembari keluar kamar bersama bunda

Acara pertunangan malam ini berakhir sukses. Dijari kiriku sudah terlingkar cincin putih tanda pengikat bahwa aku tunangan Adly. Adly tampak bahagia. Begitupun aku, kubayangkan malam yang indah ini akan menjadi awal malam yang indah berikutnya. Dimalam yang sama Ibu Rossa pun bertemu dengan calon mertuanya. Orang tua tunggal Pak Dani. Ayah Pak Dani sudah lama pergi. Dulu aku sempat mencintai Pak Dani, hingga kusadari bahwa cintaku hanya bertepuk sebelah tangan. Namun hati tidak bisa dibohongi. Hingga detik ini, jauh dilubuk hatiku. Masih terukir namanya. Tapi aku berusaha menutupinya dan menerima cinta Adly dan belajar mencintainya. Hanya aku dan Tuhan yang mengetahui.

--

“Mama, kenalkan ini Rossa..”
“Rossa..” Kataku sembari menyodorkan tangan dan mencium tangan mama Dani
“Selama ini tante hanya kenal dari suaranya, ternyata asli nya lebih cantik dari fotonya yah..”
“Silahkan ke meja makan semuanya, maaf lama menunggu..” kata mama dari dalam.
Malam ini Dani dan mama nya kuundang makan malam dirumah ku, ketika mama mendengar kabar ini, mama senang luar biasa dan langsung memesan catering untuk acara special ini. Dan kami berempat pun makan malam bersama.
“Ayah mu kapan pulang dari London nak Rossa?” kata Mama Dani tiba tiba ketika makan malam berlangsung.
Aku langsung gelagapan, karena aku dan Dani sepakat mengatakan pada Mama Dani kalau ayahku pergi ke London. Padahal kenyataan sesungguhnya ayah sudah lama pergi meninggalkan mama, mungkin dia sudah mempunyai istri baru. Ketika mama mendengarnya, mama kaget dibuatnya.
“Siapa?” Tanya mama
“Suami mu Jeng Riska, papanya Rossa..kan katanya ke London untuk waktu yang lama karena ada ikatan dinas..” kata mama Dani.
“Suami saya tidak ke London, beliau pergi meninggalkan saya dan Rossa 8 tahun lalu. Mungkin dia sudah punya istri baru..” Sahut mama tegas.
“Apa?..ooo maafkan saya..” kata mama Dani sambil cemberut
Dani dan aku hanya bisa diam, berpikir menyusun kata kata yang ingin diberikan kepada mama. Mama sudah berkali kali berkata tidak usah malu kalau kenyataan nya papa memang sudah punya istri lagi. Tapi aku bukan menutupi, hanya saja aib seperti itu rasanya tidak pantas untuk diketahui banyak orang. Dan Danipun setuju dengan keinginanku.

--

Hingga waktu berlalu, Dani mengatakan kalau mamanya tidak setuju dengan ku, tidak setuju kalau Dani menikahiku. Sedih rasanya ketika mengetahui salah satu orang tua kami tidak menyetujui cinta kami. Kulihat Dina bahagia, sering memandang cincin tunangannya. Oh GOD, kenapa hidup ini begitu tidak adil? Mengapa aku harus ditugaskan mempunyai beban seberat ini? Hingga 4 bulan kemudian Dani mengundurkan diri dari perusahaanku tanpa sebab apapun, bahkan dia tidak mau menceritakan padaku kenapa dia ingin resign. Semenjak mamanya tidak menyetujui hubungan kami, Dani semakin berubah menjadi orang yang seperti nya tidak pernah aku kenal.

Sudah setengah tahun semenjak Dani resign hari hari ku menjadi sepi. Mama sering menasihatiku kalau mencari pria jangan yang keturunan Jawa totok seperti Dani, jadinya terlalu memegang adat dan mementingkan bebet, bobot dan bibitnya. Wajar mama tidak menerima respon mamanya Dani yang menurutku terlalu mudah mengambil kesimpulan. Kalau bapaknya saja bisa meninggalkan istri dan anak yang sudah hidup bersamanya berpuluh tahun, apalagi anaknya yang seorang pemimpin perusahaan, sudah pasti punya ego besar, yang ada malah menindas dan mem-boss-i suami. Begitu kata Dani mengutip omongan mamanya.

--

Hari ini hari pernikahan ku. Aku harus tampil sempurna, ingin seperti Ibu Rossa yang cantik seperti bidadari. Tapi tidak mau seperti kehidupan cintanya yang kandas. Pak Dani, cinta lama ku. Yang kini meninggalkan Ibu Rossa. Meninggalkan Ibu Rossa dalam kesedihan yang terpendam.
“Sayang..ini adalah malam pertama kita..” kata Adly dengan mesra
“Yaa..aku sudah milik mu seutuhnya..”kataku, tapi jauh dalam hatiku membayangkan kalau malam itu adalah Pak Dani yang menyentuhku..

--

1 bulan kemudian.
“Pak Dani?” kata ku pada pria yang mirip Pak Dani disuatu pusat perbelanjaan
“Loh, Dina? Ngapain disini siang siang begini? Kamu gak kerja?..” katanya
“Jangan panggil pak lagi, Dani aja..” sambungnya
Dan kami pun mengobrol sembari makan siang. Sabtu ini aku berniat ingin membeli baju baru, tapi Adly tidak bisa menemani karena ada kerja lembur. Dani pun terkejut ketika mengetahui aku sudah menikah. Setelah bertukar nomer telepon, karena Dani mengganti teleponnya ketika resign dari kantor, dan kami berpisah dengan kesan yang mendalam, dia berjanji akan menghubungi ku lagi kapan kapan.

Tiba tiba Bu Rossa menelepon ku bertanya aku ada dimana karena dia sedang bosan dirumah dan ingin jalan jalan ke mal, 1 jam kemudian dia menyusul ke mal itu. Aku menceritakan bahwa aku habis bertemu dengan Dani 1 jam lalu, dia terkejut sekali. Dicatat nomer hp Dani yang baru dan langsung dihubunginya. Tampak sekali bahwa ibu Rossa masih mencintai Dani. Kami dua wanita yang mencintai Dani, walau sudah menikah aku masih tetap menyimpan rasa untuk Dani.

Tampak raut kesal diwajahnya, rupanya Dani tidak mengangkat teleponnya. Tampak tidak mau menerima telepon dari Ibu Rossa.
“Aku ga ngerti Din, kenapa Dani ga mau terima telepon dariku?” katanya kesal
“Mungkin Pak Dani sedang dijalan Bu..” kataku menenangkannya
“Suami mu mau jemput ya? Aku sampai sekarang belum kenal suami mu Din..” katanya sembari menyeruput orange juice disalah satu café di mal tempat kami bersantai siang itu.
“Ibu waktu saya menikah tidak datang sih, jadi gak kenal suami saya..sebentar lagi juga dia datang menjemput saya bu..” kataku mencairkan suasana supaya dia relaks
“Waktu itu kan saya sedang ke Yogya Din, maaf ya kalau tidak datang..”
“Tidak apa bu..eh itu dia suami saya…” kataku menunjuk seorang lelaki dari kejauhan

Dan Adly pun tiba di meja kami.
“Kenalkan bu, ini Adly suami saya..” kataku
Mereka bertatapan, lama sekali. Seperti sudah saling mengenal.
“Adly?..” kata Ibu Rossa
“Ros? Kamu? Heh?” kata Adly bingung.
Dan kami bertiga pun menjadi bingung. Namun setelah itu tanpa bicara sedikit pun Adly dan aku pamit pulang, meninggalkan Ibu Rossa sendiri di café itu.

--

“Kamu kenal Bu Rossa ‘dly? ..” kataku setelah tiba dikamar kami
“Ya Din, dia teman lama ku..” jawab Adly ragu ragu
“Kamu kenal dimana?” tanyaku penasaran. Tapi Adly diam saja tidak menjawab apapun, Malah dia mengalihkan pembicaraan, aku semakin kesal dibuatnya. Namun malam itu dia meniduriku, karena sebagai istri yang baik aku berusaha melaksanakan tugasku dengan baik
Setelah bercinta aku masih kepikiran kejadian siang tadi, Adly masih tidak mau cerita kepadaku, aku merasa dia menyembunyikan sesuatu. Namun aku tidak mau memaksanya lagi untuk bercerita kepadaku, dan hingga tubuh yang kelelahan ini tertidur. Memimpikan Dani yang menjadi suamiku.

--

“Ini Rossa?” kata suara pria dari telepon
“Ya benar..siapa ini?” kataku
“Ini Adly, ku dapat nomer mu dari hp Dina, ku lihat diam diam tanpa ketahuan dia..”
“Adly..” aku menangis diruang kerjaku.
Teringat ketika kami bersama dulu. Adly adalah cinta pertama ku. Kami bertemu di kampus, mengambil jurusan yang sama. 2 tahun kami bersama. Berpacaran backstreet karena saat itu orang tua kami tidak menyetujui kalau kami pacaran. Cinta kami begitu dalam. Hingga kami melakukan hubungan layaknya suami istri dan hingga aku hamil. Karena takut ketahuan, akhirnya aku ambil kos dekat kampus selama satu tahun. Dan disaat itulah aku melahirkan Shafa putri kami yang sampai sekarang aku titipkan kepada tante Mirna ibu kos ku yang sangat menyayangiku. Hingga akhirnya aku harus melanjutkan kuliah diluar kota dan kami berpisah. Terhubung oleh Sfaha putri kecil kami yang sekarang berusia 7 tahun. Namun disaat Shafa berusia 2 tahun Adly harus pergi keluar negeri karena tugas dari kantornya yang diwariskan oleh papanya. Dan hingga kini aku bertemu dengannya, sudah menjadi suami orang lain.
“Ross..gimana kabarmu? Dan Shafa?”
“Shafa baik baik saja di Bandung ‘dly, tante Mirna pindah ke sana karena kos kosan nya sudah dijual..” kataku sambil terisak
“Aku mencari mu Ross, aku kehilangan jejakmu..kucari hingga akhirnya kuputuskan untuk menikahi Dina..”
“Aku pun mencari mu Dly..”
Sore itu kami memutuskan untuk bertemu diam diam. Kutemui dia diapartemen milik ku yang kubeli untuk investasi 1 tahun lalu.

--

“Dly..” isak ku dalam haru
“Rossa..” katanya sembari menitikkan air mata
Dan kami pun berpelukan. Kami lupa segalanya. Apartemen saksi bisu kami, saksi cinta kami. Kutumpahkan segala rasa rindu ku yang terhalang ruang gerak dan waktu.
“Aku bahagia bertemu kamu Ros..” katanya sembari memelukku setelah kami bercinta sore itu.
“Aku juga ‘Dly, hati tidak bisa dibohongi..kau lah dosa terindah ku ” kata ku sembari menangis
“Akan kuberi sgalanya ntuk memiliki moment seperti ini lagi..agar bisa kembali bersama mu, resmi dalam ikatan cinta yang suci..” kata Adly. Dimatanya tampak bulir bulir airmata tanda cintanya padaku.
Cinta kami terikat oleh hati. Jauh di Bandung, mungkin Sfaha mengingat orangtuanya yang kini bertemu dan memadu kasih setelah sekian lama berpisah.

--

“Duh, Adly belum pulang juga..” kata ku melirik jam yang sudah menunjukkan pukul 9 malam
Tiba tiba aku teringat Dani, dengan senyumnya, dengan tawa dan candanya disaat pertemuan kami dimal beberapa hari lalu. Andai saja aku bisa memiliki Dani, andai saja yang menjadi suami aku adalah Dani. Berapa harga cintamu Dani.. agar aku bisa memiliki mu..

--

Penutup.
Cinta..tak seharusnya begini adanya. Tumbuh ditempat yang salah. Diwaktu yang salah pula.

Sudut temaram menjaga kegelapan
Malaikat belang menyulam kenistaan
Apatis melanda kedukaan
Terpuruk ku lagi dalam kesakitan

Mencari celah berharap cahaya
Walau sedikit tapi tetap tak ada
Melihat cinta tapi yang tampak duka
Resah berada tak kunjung tiba

Adakah lilin penerang hati
Dalam kenestapaan tak berarti
Hidup seperti angin yang berhenti
Menunggu dan menunggu sendiri

Ada atau tidak
Tetap saja fatamorgana
Ada dan tidak
Tetap aja hayalan belaka

--

Kugoreskan pena kesedihan, tanda cintaku yang terpendam. Yang hanya bisa kulukiskan dalam hati ini. Ya TUHAN, inilah keegoisan cinta. Ingin memiliki seutuhnya. Walau cinta yang indah hanya bisa terwujud dengan keikhlasan, yakinkan aku ya TUHAN, bahwa cinta indah ini dapat sampai kepadanya. Pada dia yang tidak bisa kugapai, pada dia yang tak bisa ku raih. Sekalipun dalam alunan puisi yang kubuat untuknya..

Bagikan:

2 komentar