Ikutan ah


Sore ini saya jadi ingin menulis cerpen. Isinya masih mentah banget, ceritanya juga ga bagus banget. Maklum ini dari pengalaman pribadi. Bukan gw. Tapi salah satu teman dekat gw di Pontianak. Enjooy..
--

Gubraak

Bunyi bantingan pintu dari luar, aku terkejut dibuatnya.

“Siapa itu? “

Ach, ternyata dia. Kak Aldi. Dia adalah kakak ku yang pertama dan menjadi laki laki satu satunya dikeluarga kami semenjak ayah pergi 3 tahun lalu. Kakak ku yang nomor dua Mbak Sinta pergi dari rumah, karena ditentang oleh mama karena dia berpacaran dengan laki laki berbeda agama. Mbak Sinta suatu malam pergi diam diam dan hingga kini belum kembali kerumah. Karena peristiwa kaburnya mbak Sinta, mama jadi tidak punya tumpuan dalam hidupnya lagi. Menjadi orang tua tunggal sekaligus kepala keluarga membuatnya sering menangis. Aku sering melihatnya menangis diam didalam kegelapan dikamarnya. Aku sebagai anak bungsu sering kali tidak dipercaya karena masih dianggap anak kecil. Padahal aku sudah bekerja, tapi mama setiap aku berpendapat beliau tidak pernah mau mendengar pendapatku. Kak Aldi langsung masuk kekamarnya. Aku langsung menghampirinya.

“Kak, kok baru pulang? Kemana aja 2 hari ini? Kakak ga ngabarin kalo mau pergi? Tanya ku

“Aarrgh, bukan urusan lo, udah sana kluar dari kamar gw..gw mau tiduur!” Bentak kak Aldi

“Huh, ya udah..gw kan cuma nanya, mama nyariin lo tuh..” Sahut ku

“ Bawel lo, pergi sana..gw mau tidur..”

Sore ini dihiasi dengan bentakan kak Aldi, ketika mengobrol dengannya tadi, mulutnya tercium bau alcohol. Aku tahu persis baunya. Karena dulu aku sering meminumnya. Anggur cap orang tua. Yang biasa aku beli bersama teman teman band ku di tukang jamu pinggir jalan.

“Mbak Sinta, kapan pulang?” ..lirih ku dalam hati menahan tangis.

--

Siang ini matahari membakar kota Pontianak. Kulalui jalan Ahmad Yani dengan motor kesayangan ku. Motor yang selalu menjadi teman hidup ku selama ini. Kulewati keramaian jalan arteri kota Pontianak menuju jalan Juanda.

“Andieeeeen” teriakku

“Yaaaaaaaaaa..tunggu sebentar..” terdengar suara dari dalam

“Eh Tya, masuk say..lama banget sih lo..” sahut Andien sahabat ku..

Siang itu kami mengobrol diteras rumahnya. Ku lihat bola matanya yang berkilau disaat dia bercerita tentang kejadian yang dia alami kemarin malam. Ketika dia bertengkar dengan pacarnya Rio. Dan air mata jatuh membasahi pipinya. Aku sedih melihatnya, tiba tiba rasa marah menyelimuti hati ku. Marah kepada Rio, yang telah menyakiti hati Andien, yang telah menghianati Andien.

Malam ini aku menginap dirumah Andien. Aku sudah mengirim kabar pada mama. Dan aku rasa Kak Aldi juga tidak akan pulang kerumah lagi. Rasanya dia juga akan pergi bersama teman teman gank motornya.

--

Pagi ini aku dan Andien menyusuri jalan dengan mobil Andien yang kukendarai. Motorku ku tinggal di rumah Andien. Hari ini kami berniat ingin menuju kota Singkawang. Ingin refreshing sejenak meninggalkan kepenatan hidup yang kami lalui. Andien adalah anak salah satu pejabat di kota kami. Ayah nya selalu saja sibuk dengan pekerjaan nya, sedangkan ibunya sudah lama meninggal. Ayah Andien dan ibuku mempunyai hubungan special. Andien berpikir kalau mereka menikah maka kami akan menjadi saudara. Andien anak tunggal dalam keluarganya, dan dia sangat mendambakan mempunyai kakak. Tapi aku sangat tidak setuju apabila mama dan Om Tando( ayah Andien) menikah. Aku tidak mau kami menjadi saudara. Ntah mengapa aku lebih menyukai hubungan kami seperti sekarang ini, walau sebenarnya dalam hati kecil ku, aku sangat menginginkan untuk lebih dekat dengan Andien.

Ketika sampai di hotel, kami beristirahat sejenak. Diperjalanan, Andien berkata ingin sekali ke Pasir Panjang. Pantai yang terletak dekat kota Singkawang. Malah dia ingin sekali bisa ke Sintang, hanya saja kalau kami berdua saja ke Sintang rasanya sangat berbahaya. Mengingat diperjalanan dari Singkawang menuju Sintang banyak terdapat segerombolan perampok. Walau aku bisa karate hasil belajar ku waktu 3 tahun di SMU di Jakarta, tapi aku tetap saja merasa takut jika harus berhadapan sekawanan perampok.

--

Setelah makan malam dengan menu seafood. Kami menuju café langganan kami. Menghabiskan malam yang indah ini, kami menuju hotel dengan keadaan setengah mabuk. Chivas Regal yang kami tenggak tadi cukup membuat jalan kami jadi sempoyongan.

“Tya, gw ga kuat neh..Pusiiiiiing..” Lirih Andien yang sudah mabuk berat

“Sama, gw juga..ya udah lah kita tiduran dikamar..” Sahutku.

Sebenarnya diriku tidak terlalu mabuk, hanya saja otak ku sudah tidak bekerja sama dengan tubuh ku

Dikasur kami terjatuh. Tertawa, Terdiam. Dan tertawa lagi.

Kulihat wajah cantiknya. Rambutnya yang wangi.

Oh God, kenapa dia tampak begitu cantik dimataku, kenapa dia tampak begitu menggairahkan malam ini.

Dalam diamnya, ku cium pipinya. Kubisikkan bahwa aku menyayanginya.

Dan dia melihat ku, memandang ku dengan tatapan dalamnya.

“Aku juga sayang kamu Tya..”

Dia balas menciumku, mencium bibirku.

Oh My GOD..

Dan malam ini kami lalui dengan indah.

Setidak nya bagiku.

--

“Tya..”

“Tya, bangun..” bisik Andien

Ku buka mataku, kulihat dia tidur disampingku.

“Kenapa baru sekarang? “ tanya nya

“Kenapa kamu pendam setelah sekian lama?”

“Ndien..ugh..maaf semalam..” Jawab ku setelah sadar sepenuhnya

“Kenapa harus meminta maaf?”

“Selama ini gw pun memendam Ya..Gw juga sayang elo..” lirihnya dengan lembut seraya mengecup bibirku pagi itu.

Hari ini begitu indah, baru kusadari bahwa kami saling menyayangi. Kesalahan yang kami lakukan tidak begitu penting adanya. Kami lalui tiga hari liburan ini dengan indah.

--
Seminggu kemudian

“Tya, bagi gw duit.. Gw B.U banget neh..” Bentak Kak Aldi sembari menggedor pintu kamarku

“Apaan seh kak, minta sama mama sanaa..gw juga lagi ga ada duit..” jawab ku marah

“Mama ga bales sms gw, gw butuh banget neh..cepaaaaaaat..” bentaknya lagi

Kubuka pintu kamarku, kulihat dia sangat berantakan. Seraya menggosok gosok tangannya dia menjambak rambutku

“Buruaan..gw butuh DUIIIIIIIIIIT ..”

“Iya iya..bawel amat seh lo.., berapa?”

“SEMUA YANG LO PUNYAA!” bentak nya sembari menunjuk ke wajahku. Dan tiba tiba ku lihat lengannya banyak noda merah seperti digigit serangga

“Kak, apaan tuh? Lo nyuntik ya?”

“Apaan sih lo, bawel..buruan, mana duitnyaa”

“Jawab dulu kak, lo nyuntik ya? Kalo lo mabok alcohol gw ga peduli, tapi kalo nyuntik ga sudi gw ngasih lo duit buat barang haram itu!” bentak ku

“Ah bawel..” dia langsung masuk kamar ku dan mengacak ngacak laciku

“Gak kak, ga boleeh..”

“Diam lo!”

Dan kami pun berkelahi, dia mendorongku dan menamparku. Memaksa aku menyerahkan uangku.

“Ada apa ini? “ suara datang tiba tiba

“Mama..” teriak ku

“Aldi, kenapa kamu memuku adik mu?”

“Si lesbi ini ga mau nyerahin duit maaa” jawab nya

“Apa?” kata mama

Kami pun terdiam

“Kak Aldi memaksa adek nyerahin duit tabungan adek, dia nyuntik ma..lihat aja tangannya..” Suara ku memecahkan keheningan sesaat

“Nyuntik?”

“Kalian harus menjelaskan pada mama..”

“Aargh bawel semuanyaa..udah Aldi mau pergi ma..terserah lo kalo ga mau kasih duit..” Jawab Kak Aldi dalam marah sembari menunjukku

--

Malam itu mama memanggil ku, bertanya tentang kejadian tadi sore. Aku memang sulit berbohong pada mama, namun malam itu aku berhasil menutupi semuanya.

“Tya..mama lelah..Mama capek, kenapa Sinta ndak’ pulang pulang..kemana dia..mama sudah ndak’ tahan..” mama berkata dalam tangisnya yang tertahan

“Ma..” jawab ku pelan

“Tya percaya Mbak Sinta baik baik aja..”

“Ah sudahlah, tau apa kamu..”

“Ma, Tya tau..Pasti Mbak Sinta baik baik aja..Ada mas Rendy yang selalu menjaganya..”

“Apa maksud kamu?” jawab mama dengan nada tinggi

“Kamu setuju Sinta bersama dengan lelaki itu? Beda agama Tya, lagipula laki laki itu keturunan dayak, memangnya kamu rela kalau kakak mu masuk Catholic?” bentak mama

“Ma, yang penting kan mereka saling mencinta..kalau mereka sudah punya anak bagaimana? Atau mungkin Mbak Sinta sudah hamil..” reka ku sembari menenangkan mama

“Ah sudah lah, memang tidak berguna bicara sama kamu..” jawab mama sembari pergi kekamarnya.

Malam itu kutelepon Andien. Menceritakan kejadian barusan.

--

Jalan Ahmad Yani siang ini padat merayap, Andien duduk manis disebelah ku. Dia asyik bercerita tentang ayahnya. Om Tando tampak sangat mencintai mama dalam ceritanya.

“Andien, kalau mama sama om Tando nikah, lalu gimana kita?”

“Bukannya malah lebih enak Ya? Kita bisa bersama terus, satu kamar terus selamanya..”Jawab Andien nakal

“Arh elo..bisa aja..tapi kan kita ga bisa benar benar nyatu..”

“Maksud lo apa Ya? Nikah gitu?, hahahahhaha..”jawab Andien

“Loh, memangnya kenapa? Di Kuching banyak pernikahan sejenis..”

“Tapi tetap aja kan ga bisa dong sayaaang..bisa kena amuk bokap gw laah..lagian kalo kita menikah dengan laki laki, kita kan masih bisa “bersama” “

“Maksud lo?”

“Ach..Lo ga ngerti banget sih. Gede di Jakarta masih aja tulalit..”

“Apaan sih Ndien?”

“Dengar ya Tya sayaang..gw ga mungkin dong kalo ga menikah sama sekali. Gw juga pengen punya anak, pengen nikmatin enaknya kaum cowok. Kalo ama elo kan gw pake yang palsu, kalo gw pake yang asli dan yang palsu kan pasti lebih enak..”

“HAH?”

Ku pinggirkan mobil dan ku stop

“Maksud lo? Selama ini gw bener bener sayang sama elo Ndien, Perasaan yang gw milikin bukan sekedar nafsu!, gw tulus sayang sama elo. Cinta sama elo, bukan main main, bukan sekedar permainan seks dengan dildo itu..” bentak ku menahan marah padanya

“Trus mau lo gimanaaa? Masa gw harus menghabiskan hidup gw dengan keadaan begini?” rengek nya

“Gw ga bisa kaya begini terus Tyaa..hidup gw juga perlu laki, yang nanti nya akan ngidupin gw..gak mungkin gw ngandelin hidup dari bokap doank.. dan dari lo? Elo aja kerja angin2an..duit dari mana lo ngidupin gw? “Tambahnya dengan menangis sembari menjadi jadi

“Emangnya lo mau hidup kaya gimana? Serba mewah seperti sekarang ini? Ga bisa lo hidup dengan sederhana? Ga bisa lo hidup dengan kasih sayang tulus dari gw? Gw pun akan kena amukan mama, tapi gw ga peduli karena gw SAYANG lo, gw CINTA lo, sebegitu mahalkah cinta lo untuk gw Andien? ..”

Kami terdiam. Dia menangis.

Aku tak kuat menahan semua gejolak ini.

Aku tak kuat memendam perasaan cinta ini.

Aku memang sangat mencintainya.

Bukan karena materi, bukan karena fisik.

Ntah lah..Cinta ini begitu sulit adanya. Tumbuh ditempat yang salah, diwaktu yang salah pula.

--

Dalam diam

Dalam amarah tak menentu

Dalam gejolak hendak meledak

Mengeksplorasi hasrat

Hilang angan tiba harapan
Berharap akan munculnya jalan
Hitam putih hitam putih bergandengan
Itulah hidup yang penuh bayangan

Dan lagi sendiri dan sendiri lagi
Menghitung asa tak pernah berhenti

Cahaya kapankah kau datang
Mengapa kau redup trus menghilang
Seperti harapan yang tinggal harapan
Ku berada digerbang keputus asaan

--

Bagikan:

2 komentar