Belum ada judul

Bunyi sepatu kuda terdengar dari kejauhan, derunya membahana membelah kesunyian malam.

“Tuan, sepertinya rumah itu tidak terlalu jauh lagi..” kataku

“Iya, saya tahu..”

Dua sosok berjubah hitam panjang tiba dari kegelapan malam. Mengetuk pintu rumah yang terletak dalam hutan belantara, seakan ingin bersembunyi dari kegilaan dunia.

Tok tok..

“Ya..” terdengar suara dari dalam

Deri t pintu dibuka, menyusul suara nafas terengah.

Muncul wajah tertunduk seakan takut kepada sosok sosok tersebut.

“Tuan, silahkan masuk..” kata suara pemilik wajah ketakutan itu.

“Ya, terima kasih..Tidak usah takut kepada ku, tujuan ku berbeda malam ini.. “ sahut salah satu sosok itu

“Silahkan tuan, biarkan staf kami yang mengandangi kuda anda..” balas pemilik wajah ketakutan itu.

Sosok sosok tersebut memasuki lobi rumah yang besar. Rumah yang tampak angkuh seakan memamerkan sejarah pemiliknya.

“William..oh..kamu tampak lelah, mari keruang makan. Isi dulu perut mu, ajaklah Sebastian..” sambut wanita setengah baya yang sudah menanti sosok sosok tersebut di ruang tamu.

“Bangsawan hanya bisa makan dengan bangsawan pula, diamlah kau pelacur murahan..” jawab William

Aku hanya bisa tertunduk, takut akan kemurkaan Tuan William yang bisa muncul tiba tiba.

“Dimana papa?” tanya William pada wanita itu.

“Ayah mu dikamarnya, dia sudah tua William, dokter menduga kalau beliau terkena cacar air” jawab wanita itu.

Dan William pun langsung setengah berlari menuju kamar ayahnya yang terletak dilantai dua rumah tersebut.

“Ayah..”

“Will..”

“Oh tidak..ayah sakit cacar, maaf ayah..aku tidak bisa menyentuh mu..”

“William, putraku..kemarilah nak..”

“Maaf ayah, aku tidak bisa menyentuh mu, aku takut tertular oleh mu..”

Dan tiba tiba sosok baru masuk kedalam kamar itu diikuti dengan wanita setengah baya yang tadi menyambut kami, aku hanya bisa berdiri disudut kamar besar itu. Kamar yang tampak gelap. Sosok itu adalah dokter keluarga King. Keluarga King adalah salah satu bangsawan di Rumania. Keluarga bangsawan yang sangat terkenal dan kaya raya. William adalah satu satu anak tunggalnya. William sebenarnya wanita, namun karena ayah nya Tuan David, dari kecil William di didik sebagai pria. Berlatih pedang, menunggang kuda, berkelahi dan selalu didandani pakaian pria. Hingga disaat usianya ke 23 tahun ini, tidak ada satupun yang menyadari kalau William adalah wanita. Hanya keluarga inti dan staf staf terdekat yang mengetahuinya. Wanita setengah baya yang selalu menemani Tuan David adalah selirnya yang bernama Lady Bertha. Karena ibu kandung William telah meninggal disaat melahirkan William. Lady Bertha selalu dipanggil pelacur oleh William, karena William tidak pernah menerima Lady Bertha sebagai pengganti ibunya. Sejak umur 17 tahun, William pisah rumah dengan ayahnya. Dia lebih memilih tinggal di istana kecil warisan kakeknya di selatan Rumania. Dan dia memilih ku untuk menemaninya, bersama dengan beberapa stafnya yang setia. William wanita yang tangguh. Dia tidak takut terhadap apapun. Dan diam diam, aku pun mengaguminya.

“Dokter, apa ayah tidak bisa sembuh?” tanya William

“Maaf Tuan Willy, ilmu kedokteran belum menemukan serum nya. Kita hanya bisa menunggu waktu..” bisik dokter dalam keheningan

“Oh my lord..please..” rengek Lady Bertha

“Ayah, semoga Tuhan memberkatimu..” bisik William

“Lady Bertha, apa pastur Cedric akan dating kemari?” tanya William

“Sepertinya beliau akan datang besok Willy, my dear, tidurlah..tidurlah dalam tenangmu..” jawab Lady Bertha sembari mengelus dan berkata pada Tuan David.

--

Siang hari yang cerah pada hari itu membuat kami bersemangat keluar rumah. Halaman rumput yang luas terhampar, daun daun yang berguguran, dan angin yang mulai dingin sepertinya sudah menandai akan masuk musim dingin yang panjang. William memintaku menemaninya berkeliling ke sekitar tempat mainnya waktu dia kecil dulu. Kerinduan tampak dalam ceritanya ketika dia bercerita tentang masa kecilnya dulu.

“Tahukah kau Sebastian..dulu waktu aku kecil aku percaya sekali kalau aku laki laki..”

“Dan ketika haid pertama ku datang, aku terkejut luar biasa, kenapa kemaluan ku bisa berdarah seperti itu..” sambung William

“Ah ternyata aku perempuan..Aku menyadari ayah tidak pernah menerima ku sebagai perempuan. Karena siapa lagi yang akan meneruskan nama keluarga kami kalau aku perempuan. Tapi jika ayah meninggal, King hanya tinggal kenangan..” sambungnya lagi dengan sedih yang terpendam

“Tuan..maaf, nama keluarga hanyalah sebuah nama. Kebesaran perjuangan pemilik nama tersebut lah yang akan menjadi kenangan yang tidak akan pernah terlupa..” jawab ku

“Sebastian, jawaban mu memang selalu bijak. Yah.. apalah artinya sebuah nama..Sebastian, lihatlah bukit itu..” kata William sembari menunjuk salah satu bukit dikejauhan

“Ya tuan..ada apa?”

“Mari kita kesana, disana ada air terjun yang sangat indah..dulu waktu kecil aku sering kesana..”

Dan kami berdua pun menuju kesana, kupacu kuda dengan kencang seakan berlomba adu cepat dengan William

“Lihatlah, benar kan kata ku?. Indah bukan? Dan lihat daun daun itu, masih ada yang hijau..”

“Ya tuan, seindah bola matamu..”

“Thanks Sebastian..Sebastian, kenapa kamu tidak kunjung menikah? Berapa umurmu sekarang? Tanya William tiba tiba

“31 tahun tuan. Maaf kenapa tuan menanyakan hal itu tiba tiba?”

“Sebastian, bukankah dengan umurmu yang sudah matang, seharusnya kau sudah menikah?”

“Mungkin memang belum saatnya tuan..”

“Sebastian, apa karena ku kamu tidak menikah? Apa karena kamu selalu menemani ku kemanapun ku pergi hingga kamu tidak menikah?..” tanya William sembari menatap ku

Bola matanya yang hijau, rona wajahnya yang memerah dan bibir tipisnya yang merekah membuat jantung ku berdegup kencang saat itu.

“Tuan..bukan karena tuan saya tidak menikah..”

“Sebastian, saya tidak pernah melihatmu bersama wanita manapun..Saya sering melihat Greddory bersama wanita wanita yang berbeda..Lalu kenapa kau tidak?” tanya William penasaran. Gredorry adalah salah satu staf William dan partner berburu ku disaat musim perburuan tiba.

“Tuan, maaf…tapi saya tidak menyukai bermain perempuan..”

“Tapi kan kau bisa memilih salah satu untuk menemani mu menghabiskan sisa hidup ini..Apa yang kamu pikirkan? Apa karena uang? Apa gaji mu kurang?”

“Tidak tuan..gaji saya lebih dari cukup..”

“Lalu kenapa? “ tanya nya penasaran sembari menatapku lebih dalam lagi. Bola mata itu seakan mencari cari sesuatu yang sudah lama aku sembunyikan

“Sebastian, kita sudah seperti saudara. Walau didepan orang aku selalu menjaga martabatku, dan menjauh dari mu. Tapi kita besar bersama..kita dewasa bersama, kenapa kau tidak percaya padaku?”

“Maaf tuan..” jawabku sambil menundukkan kepala. Menghindari tatapan nya yang tajam

“Baiklah..tidak apa apa kalau kau tidak mau cerita, baiklah mari kita pulang sekarang. Udara sudah semakin dingin. Dan perutku lapar..”

Tiba tiba William terjatuh tersandung batu sungai ketika membalikkan tubuhnya, aku spontan memeganginya, karena keseimbangan ku kurang kami berdua pun akhirnya jatuh kesungai. Air yang dingin menusuk tulang kami. William kedinginan luar biasa. Giginya bergemeletuk menahan dingin.

Kuambilkan selimut kecil dari tas yang kuletakkan dipelana kuda. Kuselimuti tubuhnya yang mungil. Walau aku kedinginan juga aku berusaha menahannya karena William lah yang ku dahulukan.

“Sebastian, kaki ku gemetar..aku tak kuat menunggang kuda..”

“Tuan..biar aku memapah mu..”

William menaiki kudanya, kujaga agar dia tidak terjatuh. Kuda ku, ku giring mengikuti kudanya. Langit tiba tiba menjadi gelap, hitam membahana menutupi matahari. William semakin kedinginan hebat. Tubuhnya memang ringkih, setiap terkena hawa dingin, dia tidak bisa menahan dingin yang amat sangat.

Dan tiba tiba dia terjatuh pingsan.

“Tuaan..” teriak ku terkejut.

Kugotong tubuhnya ke pinggir sungai. Kucari tempat yang sekiranya bisa menjadi tempat berlindung. Kuikat kuda kuda kami dipohon yang rindang. Ach..akhirnya kutemukan mulut goa tak jauh dari pinggiran sungai. Ku gotong dan kuletakkan dengan lembut tubuhnya yang basah. Segera ku pindahkah kuda kuda kami agar tidak kehujanan. Rupanya goa itu cukup luas untuk kami.

“Tuan..bangun tuan..” kutepuk pipinya dengan lembut. Akhirnya hujan turun juga. Derasnya hujan tak kunjung berhenti hingga malam tiba. Dan William belum juga sadar dari pingsannya. Kunyalakan kayu bakar agar goa itu hangat. Kuletakkan kepalanya dipangkuanku.

Dan tiba tiba dia membuka matanya.

“Sebastian..” katanya dengan suara pelan

“Dimana kita?”

“Kita di suatu goa tuan, tidak jauh dari air terjun..”

“Och..apa aku pingsan?”

“Ya tuan, tuang pingsan cukup lama, dan hujan pun turun tidak berhenti dari siang tadi”

“Och..apa yang harus kita lakukan?, aku tidak mau orang rumah kawatir..”

“Tapi hujan ini sangat lebat tuan. Baju tuan yang basah tadi sedang saya keringkan..”

Dan dia pun segera tersadar mendapati tubuhnya tidak berbusana sama sekali. Hanya diselimuti selimut kecil yang tidak mampu menutup seluruh tubuhnya.

“Och My God..Sebastian, lancang nya kau!” William tampak murka

“Maaf tuan, saya hanya tidak mau tuan sakit karena memakai baju yang basah kuyup”

“Oh..baiklah..kemarikan bajuku”

“Tapi tuan, baju itu masih basah..”

Naluri lelaki ku sudah sedari tadi muncul. Gairah yang memuncak ketika memandang tubuhnya yang mulus tanpa cacat sedikitpun. Kulit putihnya yang halus dan indah membuatku gemetar luar biasa

“Kenapa kau gemetar?”

“Saya kedinginan tuan..” dalihku

“Oh baiklah..perutku lapar sekali Sebastian..” katanya dengan lemas. Dia duduk bersila di pinggir api unggun. Menatap langit hitam berharap hujan segera berhenti

“Sebastian, apa tubuhku indah? Kau tentu sudah melihatnya kan sewaktu membuka bajuku?” katanya tiba tiba

William suka bertanya hal yang tiba tiba. Hal yang sebenarnya terkadang tidak nyambung disuasana saat itu. Ntah apa yang dipikirkannya. Dia suka menatap langit dengan tatapan yang aneh. Seperti mempunya pikiran yang amat berat.

“Sangat indah tuan..”

“Apa kamu pernah menyentuh wanita? Maksud ku, apa kamu pernah bercinta dengan wanita? Maksudku aku tidak pernah melihatmu bersama wanita, jadi apa kamu menyukai wanita?” tanya William gugup

“Saya menyukai wanita tuan. Tapi tidak sembarang wanita yang saya sukai..” jawabku

“Wanita seperti apa yang kamu sukai Sebastian?”

Oh pertanyaan ini sangat membingungkan, tentu saja aku ingin menjawab wanita seperti dirinya. Keberanian dan semangatnya yang selalu membuatku tergila gila padanya.

“Sebastian, kenapa kamu tidak menjawab?”

“Hmm tuan..itu adalah pertanyaan yang sulit”

“Kenapa Sebastian?”

“Karena diperlukan keberanian yang tinggi untuk menjawab nya”

“Keberanian seperti apakah Sebastian?”

“Tuan..maaf saya tidak bisa menjawabnya..” jawabku takut

“Kenapa Sebastian? Apa yang kamu takutkan? Jangan menundukkan kepala mu, tatap lah aku dan jawablah pertanyaan ku” perintah Wilillam

“Tuan..maaf saya tidak mampu menjawabnya”

“Baiklah..” jawabnya sembari berdiri. Selimut yang membungkus tubuhnya jatuh kelantai goa. Diterangi cahaya api unggun dia menatapku tajam. Jantung ku berdegup kencang, sosok wanita yang kukagumi berdiri telanjang menatapku.

“Sebastian, umurku sudah cukup dewasa, dan kurasa kau pun mengerti. Kau pria dewasa dan aku wanita yang sudah matang.. Sudah lama kupikirkan ini, jauh sebelum ayah sakit. Aku harus mempunyai keturunan, tidak mungkin aku menikah dengan laki laki baru yang nantinya akan mengetahui rahasia keluarga kami. Jadi aku harus mempunyai anak diam diam. Yang nantinya akan ku umumkan bahwa itu anak angkat. Aku masih bisa meneruskan nama keluarga dan menyembunyikan rahasia ku, dan semua pun berjalan seperti yang ayah inginkan..”

“Tuan..”

“Sebastian, maaf jika alasan ku karena ini, tapi tak mampu aku membohongi mu. Lakukan tugas yang aku perintahkan Sebastian. Perlakukan aku sebagai wanita malam ini..”

Dan kami pun melakukan nya malam itu. Malam yang sangat indah bagi ku.

--

Matahari pagi menyilaukan mataku, kulihat William masih tertidur pulas disampingku. Tubuhnya kotor oleh debu. Kugoyangkan tubuhnya.

“Tuan, bangun..”

“Sebastian..oh..sudah pagi..”

“Tuan, mari kita berpakaian. Sepertinya kita harus pulang..”

“Ya Sebastian, dan ingatlah rencana kita tadi malam. Jangan pernah mengatakan pada siapapun. Setelah ayah meninggal, akan ku usir Lady Bertha, pastur Cedric akan membantu kita nanti.

Deru kuda kembali membelah angin dipagi itu. Ketika kami sampai dirumah, Lady Bertha marah bertanya kemana kami semalam. Dan William pun melancarkan alasan yang dia sudah susun semalam. Kalau dia pergi ke desa terdekat, mencari anak angkat yang akan dia asuh sebagai penerus keluarga nantinya. Lady Bertha tampak berang. Dia tidak menyangka kalau dia seperti orang asing dalam keluarga itu. Memang dengan pernikahannya dengan Tuan David selama 10 tahun pernikahan mereka tidak dikaruniai anak. Itu membuat Tuan David semakin putus asa hingga akhirnya jatuh sakit.

“Bagaimana ayah?”

“Beliau tidur Willy..” jawab Lady Bertha menahan marah dan berlalu meninggalkan kami.

William segera kekamarnya dan berniat untuk membersihkan diri.

“Sebastian, bersihkan dirimu. Setelah itu kita tengok ayah dan menjemput pastur Cedric kalau dia tidak datang juga siang ini”

“Baik tuan”

--

“Pastur, kenapa tidak datang kerumah? Kami menunggumu..” tanya William pada Pastur Cedric di gereja yang letaknya tidak begitu jauh dari rumah kami.

“Maaf nona, badan saya sedang lemah. Dan tidak ada staf yang membantu saya disini”

“Sudah kubilang jangan panggil aku nona, bagaimana kalau ada yang dengar! Pastur memangnya George kemana?

George adalah salah satu sfat William dulu, tapi kemudian ditugaskan untuk menemani pastur Cedric.

“George sedang pergi ke Gorgory’s Hollow membeli keperluan sehari hari untuk kami”

“Oh..pastur..ada yang mau aku ceritakan..”

Dan William pun menceritakan rencananya. Aku hanya bisa tertunduk takut disalahkan oleh pastur Cedric.

“Oh Tuhan..kenapa nona berpikir seperti itu? Hanya karena sebuah nama keluarga dan harga diri?”

“Pastur sudahlah jangan banyak protes, turuti saja kataku. Aku yakin tak lama lagi ayah akan meninggal. Kalau aku tidak bertindak cepat lalu bagaimana?”

“Nona, tapi selama nona akan berpura pura pergi mencari anak asuh, nona akan tinggal dimana? Sementara di istana nona sudah terlalu banyak orang. Saya takut mereka curiga. Kalau tuan David pergi, sudah pasti adik adiknya akan datang menghampiri nona dan menanyakan tentang harta keluarga..”

“Sudahlah, aku sudah mengaturnya. Aku akan tinggal di Utara bersama Sebastian hingga aku melahirkan nanti, lagipula di Utara tidak ada yang mengenali ku..” balas William sembari mengelus perutnya

“Aku berharap aku segera mempunyai anak..” sambungnya

--

Dan hari pun berlalu. Kondisi tuan David semakin lemah. Tiap hari Lady Bertha menangis seperti mencari perhatian William. Agar William mengasihaninya dan tidak mengusirnya. Namun hati William yang keras sudah mengatakan kepadanya kalau ayah meninggal dia pun harus segera angkat kaki dari rumah besar itu.

Hingga suatu hari akhirnya tuan David mangkat. Tamu tamu banyak berdatangan dari jauh untuk mengucapkan bela sungkawa. Dan banyak juga tamu yang menginap.

“Selamat William, akhirnya kau meneruskan tahta ini.. Sebagai kaki tangan Raja dan penerus keluarga King..” sambut Tuan Stevano salah satu petinggi kerajaan teman dekat tuan David

“Uncle Steve, thank you..” jawab William

--

Funeral dan pesta pengangkatan pewaris akhirnya pun berlalu. Hingga hari berganti bulan. Rumah besar tersebut lama lama menjadi sepi. Lady Bertha sudah lama pergi. Hanya dibekali sedikit uang oleh William. William dan aku sudah sangat sering melakukan hubungan special kami. Tetap dalam kepura puraan. Namun hingga bulan berganti tahun, anak yang didamba William tak kunjung datang. Berdoa memohon Tuhan untuk segera hamil. Namun dirinya tidak hamil jua. Putus asa lama lama menggerogoti otaknya.

Tahun pun berlalu. Hingga 10 tahun sudah kami berusaha tetap menjalankan rencana semula. Kekerasan hatinya tetap memaksakan kami. Sering kali dia marah padaku karena tidak kunjung menghamilinya. Disangkanya aku yang mempunyai kelemahan. Hingga suatu hari dengan marahku, ku melakukan kepada wanita desa di Gorgory’s Hollow. Berharap wanita bernama Helena tersebut hamil hingga berbulan bulan aku tidak pulang kerumah. Aku tahu William pasti akan marah padaku ketika aku pulang nanti. Tapi hati ini sudah terlalu kecewa dengannya. Aku hanyalah sebagai alat seks pemuas nafsu nya dan keinginan terpendamnya.

Akhirnya suatu hari Helena member tahu ku bahwa dia mengandung anak ku. Puji Syukur kuucapkan.

Segera kupacu kereta kuda bersamanya. Hendak kubawa Helena yang tengah hamil muda menuju rumah William.

Setelah kuceritakan, William marah luar biasa. Mengapa aku menghianatinya. Dengan tenang kujelaskan, bukan salah ku jika aku dengan Helena. Yang jauh lebih mencintai ku daripadanya yang hanya menggunakan ku sebagai alat pemulus rencananya.

“Aku akan menikahi Helena “ Kataku tenang

“Tidak! Jangan kau nikahi perempuan murahan itu”

“Apa kau bilang? Helena jauh lebih baik dari mu Willy. Sudah cukup puluhan tahun ini aku bersabar padamu. Cinta yang ku beri selalu kurang dimata mu. Kau selalu meremehkan ku dan membuangku. Datang pada ku disaat kau butuh. Hanya sebagai alat pemuas nafsu mu dan alat pemulus rencana gila mu!” hardik ku

“APAA?”

“Sudah berani kau dengan ku demi wanita ini?” marahnya sembari menunjuk Helena yang ketakukan dalam diam

“Memangnya seistimewa apa dia dimatamu?”

“Willy, demi harta dan tahta kau korban kan cinta ku. Demi nama dan martabat keluarga kau injak injak aku? Selama ini aku bersabar pada mu, hingga aku tak tahan karena kau selalu memaki ku..”

“Sebastian! CUKUUP! PERGI KAU! JANGAN PERNAH MENGINJAK RUMAH INI LAGI!”

“Baik Willy. BAIK. Aku memilih hidup dengan Helena yang tengah mengandung anak ku. Anak kandung ku. Yang membuktikan dia jauh lebih mampu dibanding kau. Selama ini kau yang selalu menuduhku lemah. Namun kini semua telah terbukti.. Lagi pula aku mencintai Helena..Dan status kami sama. Hanya rakyat, bukan bangsawan atau pendeta.”

“FINE!” hardik William marah dan pergi meninggalkan kami.

Lama ku tatap Helena yang ketakutan, kugenggam tangannya, dan kubawa dia menuju rumah kami di Gorgory’s Hollow.

--

Semenjak pertengkaran itu, aku tidak pernah datang lagi ke istana William. Dan aku juga tidak pernah mendengar kabarnya. Sering kali kukirim orang untuk mencari kabarnya, namun sepertinya mereka tidak mendapat kabar apapun. Terakhir ku dengar kabar yang meragukan bahwa William tinggal di istana pusat bersama Raja. Hingga umur menggerogoti ku, dan akhir hayatku yang kuhabiskan bersama Helena dan anak anak kami, aku tidak pernah mendengar kabar William lagi.

Hidup memang misteri, Tuhan selalu mempunyai rencana tersendiri untuk mengatur hidup umatnya. Beruntunglah aku yang bisa mendapatkan cinta dari Helena walau aku tidak begitu mencintainya.

Cinta memang tidak harus memiliki. Cintaku pada William hanyalah tinggal kenangan. Hingga aku menutup mata kini, senyum dan bola mata indah William selalu terbayang dalam pikiranku.

Selamat tinggal William dosa terindah ku..

---

nb: panjang amat yaah? mpe juling bacanya, hahahhahaa...

Bagikan:

3 komentar